LHOKSEUMAWE – Sirene peringatan terjadinya gempa berbunyi meraung-raung di SLBN Aneuk Nanggroe Kota Lhokseumawe di Gampong Uteunkot, Kecamatan Muara Dua, Senin, 1 Oktober 2018, pagi. Puluhan siswa tingkat SD, SMP dan SMA yang berada di 16 ruang belajar atau rumbel langsung sigap bersembunyi berjongkok di bawah meja. Di beberapa ruang juga terdengar teriakan dan tangisan, mereka panik dan ketakutan.

Tak lama berselang, mobil ambulans milik PMI Kota Lhkseumawe tiba di lokasi itu bersama Tim SAR dan Tagana. Para petugas terlihat berlarian ke dalam ruang belajar untuk menyelamatkan dan mengevakuasi para siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) tersebut.

Mereka dievakuasi dengan beragam cara, ada yang digendong satu per satu, ada pula diangkat menggunakan tandu. Beberapa di antaranya terlihat berdarah dan luka-luka, ada juga yang mengalami patah kaki. Bagi siswa yang sehat (tanpa luka) dievakuasi ke titik kumpul yang berada di tengah halaman sekolah. Sementara bagi siswa yang luka-luka mendapat pengobatan medis dari petugas PMI di teras ruang dewan guru.

Sejumlah guru terlihat memeluk dan berusaha menenangkan anak didiknya yang menangis histeris di titik kumpul. Selain itu, siswa yang mengalami luka berat kembali dievakuasi dengan mobil ambulans menuju rumah sakit.

“Hari ini kita melakukan simulasi penanggulangan bencana, khususnya dalam menghadapi gempa dan kebakaran. Sebelumnya, kita sudah lebih dulu mensosialisasikan kepada anak-anak mengenai apa saja yang harus dilakukan jika terjadi gempa. Misalkan, berjongkok melindungi kepala dan bersembunyi di bawah meja. Setelah gempa berhenti, anak-anak keluar perlahan tidak boleh ribut dan saling dorong. Mereka berjalan menuju titik kumpul,” ujar Kepala SLBN Aneuk Nanggroe, Samhudi, S.Pd., ditemui portalsatu.com/ di lokasi itu, Senin/kemarin.

Samhudi menyebutkan, kegiatan tersebut bekerja sama dengan PMI Kota Lhokseumawe, Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Lhokseumawe, Tim SAR dan Tagana Kota Lhokseumawe. Selain simulasi gempa, juga dilakukan simulasi cara memadamkan api apabila terjadi kebakaran kecil akibat kompor atau lainnya. Terlihat juga dewan guru dan siswa turut serta mencoba memadamkan api menggunakan goni basah. Puluhan siswa bertepuk tangan ketika melihat api berhasil padam setelah ditutupi goni basah tersebut.

“Semoga apa yang dilakukan hari ini dapat bermanfaat bagi kita, sehingga jika terjadi bencana sudah siap selalu untuk mengurangi risiko bencana yang ada di sekolah kita. Anak-anak juga terlihat sangat antusias mengikuti simulasi penanggulangan bencana ini. Sekolah kita memiliki 60 siswa dengan 16 rumbel. Mereka terbagi dalam tingkatan SD, SMP dan SMA,” ucap Samhudi.[]