Oleh Taufik Sentara*
Menjenguk orang sakit merupakan adab Islam yang paling dianjurkan. Ia menjadi sarana muhasabah diri, pelembut hati dan penguat silaturahim. Allah menjadikan penyakit yang diderita sebagai pembakar kesalahan, orang yang sakit idealnya sangat dekat dengan Rabb-nya. Hingga Rasulullah Muhammad SAW mengajak kita untuk meminta didoakan oleh orang sakit.
Di antara nabi yang diuji dengan sakit ialah Nabi Ayyub AS. Namun sakitnya tidaklah seperti yang digambarkan dalam israiliyat, sakitnya tidak sampai merendahkan kemanusiaan dan kenabiannya. Ia juga diuji dengan hilangnya anak dan harta benda. Namun kesemuanya dikembalikan Allah seperti sedia kala, juga kesembuhannya. Dalam riwayat yang masyhur ia sembuh dengan siraman air surga yang dibawa oleh malaikat.
Dalam beberapa kasus di masyarakat muslim kita, saat terbaring di rumah sakit, sedikit sekali anjuran dan bimbingan yang mengarahkan agar si sakit tetap mengamalkan kewajiban utamanya semisal shalat, doa dan zikir harian.
Fakta ini mengindikasikan bahwa pengalaman dan latar belakang si sakit akan menentukan bagaimana ia bersikap saat sakit dan terbaring dengan perawatan dan pengawasan khusus.
Seorang yang sakit dengan latar belakang pendidikan agama yang memadai akan selalu ingat perihal kewajiban-kewajibannya selaku hamba Allah. Maka benar sekali Rasul yang menganjurkan doa untuk segala situasi
“Alhamdulillah fi kulli haalin, segala puji selalu menjadi milik Allah dalam setiap keadaan”. Kutipan doa tersebut menjadi penyejuk hati bagi si sakit ataupun keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Hal tak biasa
Ketika menyempatkan diri untuk menjenguk seorang teman yang sedang dirawat di rumah sakit, penulis tidak hanya mencoba untuk mengukur seberapa sehat dan kuat diri ini terhadap sakit yang menimpa. Sebab sakit itu bisa saja datang tiba-tiba, menyebabkan kita merasakan sakit dalam waktu yang lama, penuh biaya dan perawatan khusus dari keluarga.
Tentang teman penulis tadi, ia termasuk tipikal yang jarang dirawat di rumah sakit. Akan tetapi, kali ini ia mesti ikhlas dirawat, karena tiba-tiba kondisi tubuhnya melemah dan hampir rebah saat ia mengimami shalat (shalat ia lanjutkan dengan duduk). Mungkin inilah cara Allah agar teman saya ini bisa “istirahat” dari aktivitas rutinnya: selaku teungku, mengajar di balai dan mengisi beragam majelis, guru di madrasah dan pengurus di beberpa organisasi lokal.
Bila kita berkunjung untuk menjenguk orang sakit dan kita berupaya mengambil iktibar secara personal, itu merupakan hal yang wajar. Namun, ketika kita dapat menerima pelajaran secara langsung dan khusus dari si sakit, maka ia adalah sesuatu yang istimewa.
Yang penulis maksud sebagai pelajaran adalah, teman saya tadi sempat menyampaikan beberapa poin penting perihal sakit yang diderita seseorang: “Sakit itu,” katanya sambil mematut posisi duduknya di atas kasur, “yang pernah saya pelajari dari guru-guru saya, dapat muncul karena empat sebab”.
Lalu ia menguraikan keempat hal tersebut. “Pertama karena faktor yang kita makan dan kebiasaan kita. Kedua karena ada sesuatu yang mengenai tubuh kita, seperti kecelakaan. Ketiga karena faktor di luar diri kita semacam gangguan yang dikirimkan lewat jin. Ketiga, karena dosa dan kesalahan kita,” ungkapnya penuh khusyu'
Apa yang baru ia sampaikan agaknya tidak begitu asing bagi telinga kita, tapi cukup berkesan karena disampaikan langsung oleh si sakit, seakan ia juga sedang belajar dan rida untuk sakit yang sedang ia alami.
“Istigfar, istigfar yang banyak merupakan langkah tepat untuk keempat macam penyebab sakit tersebut,” ujarnya.
“Iya, teungku..., memang begitulah…,” kata penulis lirih sambil mengingat ke diri sendiri.
Selang beberapa menit kemudian penulis pun pamit, memelukknya, mendoakannya dan meminta didoakan juga untuk kesembuhan ibu penulis. Semoga kesembuhan dan kesegaran baru akan dikembalikan Allah untuknya dan semua keluarga dan sahabat kita yang sakit. “Hanya kematian yang tak ada obatnya,” demikan sabda Nabi kita.[]
*Taufik Sentana
Staf Ikatan Dai Indonesia Aceh Barat






