BLANGKEJEREN – Belasan ribu pendukung calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Gayo Lues Suhaidi-Maliki momor urut 2 padat merayap di Stadion Seribu Bukit Blangkekejeren, Rabu, 20 November 2024.
Seluruh tempat duduk di Tribun Sepak Bola tersebut penuh sesak hingga sebagian para pendukung yang datang dari Sebelas Kecamatan turun ke lapangan untuk mendegarkan orasi, dan menikmati hiburan.

Ustad Saparuddin dari Himpunan Ulama Dayah (Huda) Kabupaten Gayo Lues, mengatakan saat ini banyak isu miring ditegah masyarakat hingga ada yang menyebut kenapa para Ulama ikut berpolitik.
“Kami para Ulama ikut berpolitik karena tinggal di Negara demokrasi yaitu Indonesia, maka kita semua berhak menentukan siapa pilihan kita. Kenapa kami para Ulama turun berpolitik, karena Allah SWT sudah mengatakan, bahwa Allah tidak akan merubah nasip Kabupaten Gayo Lues, kalau bukan masyarakat Kabupaten Gayo Lues itu sendiri yang merubahnya,” katanya.
Anggota DPR RI dari Partai PKB H. Irmawan, mengatakan dukungan kepada pasangan Suhaidi-Maliki terus mengalir, baik dari anggota DPRA, DPRK, Partai Politik, maupun dari masyarakat terus meningkat.

“Dukungan kepada pasangan Suhaidi-Maliki sangat nyata. Insa Allah kita akan tampil sebagai prmenang, untuk itu kami menghimbau kepada seluruh masyarakat agar menjaga pilkada damai, jangan saling memfitnah, dan jangan ada yang anarkis. Jangan sesekali menodai perjuangan kita ini,” katanya dihadapan Sembilan orang anggota DPRA, 17 Anggota DPRK, dan Belasan Ribu pendukung Suhaidi-Maliki.
Sementara calon Bupati dan Wakil Bupati periode 2025-2030 Suhaidi-Maliki mengucapkan terimakasih kepada seluruh pendukungnya yang datang dari seluruh desa yang ada di Gayo Lues.
“Kami memohon do’a dan dukungan dari seluruh masyarakat Kabupaten Gayo Lues, dan jangan lupa mencoblos nomor urut 2 Suhaidi-Maliki pada tanggal 27 November 2024 nanti, serta nomor urut 2 calon Gubenur Aceh yaitu Muzakir Manaf-Dek Fad,” katanya.
Saat Kampanye Akbar, Belasan ribu pendukung Suhaidi-Maliki terlihat senang di hibur artis Gumara, Epan Ceh Kul, dan Sakdiah yang didatangkan dari Aceh Tenggah.[]




