ACEH UTARA – Belasan rumah warga Gampong Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, rusak dihantam banjir pada Sabtu, 21 Januari 2023, lalu.
Keuchik Gampong Buket Linteung, Mansur, Sabtu, 28 Januari 2023, mengatakan 12 rumah warganya yang rusak berat dan ringan akibat banjir. Satu balai pengajian juga rusak. “Terparah lima rumah dengan kondisi roboh total, tidak bisa ditempati lagi,” ujarnya kepada wartawan di Buket Linteung.
“Kalau rumah yang rusak ringan, kami bersama masyarakat lainnya dalam beberapa hari ini juga melakukan gotong royong untuk memperbaiki secara swadaya saling membantu,” tambah Mansur.
Mansur sudah menyampaikan data kerusakan rumah warganya itu kepada Camat Langkahan.
Mansur menyebut warga Buket Linteung terdampak banjir sebanyak 503 KK dengan jumlah pengungsi mencapai 2.032 jiwa. “Ada shelter khusus tempat pengungsian yang sudah disiapkan pemerintah di lokasi yang aman banjir, dan sampai sekarang masih ada dapur umum karena kondisi cuaca pun belum normal. Bagi warga yang rumahnya rusak parah itu belum pulang ke rumah,” tuturnya.
Menurut dia, Buket Linteung sempat direndam banjir tiga hari. “Di Dusun Pateng sampai sekarang warga masih memakai sampan (boat kecil) untuk melintas, kondisi air di jalan lintas itu mencapai 2 meter. Sementara tiga dusun lain sudah surut dan kering,” ujar Mansur.
Mansur menambahkan hari ini (Sabtu) tampak mulai muncul lagi luapan Sungai (Krueng) Arakundo yang masuk ke permukiman warga.
“Di sini mengalami banjir dalam setahun terkadang sampai enam kali, banjir terparah pernah terjadi pada tahun 1995, 2006, dan kali ini (2023). Jika hujan deras di kawasan Bener Meriah tentunya akan berimbas banjir ke Langkahan,” ungkapnya.
Salah seorang warga Buket Linteung,
M. Yatim Itam (73 tahun), menyebut rumah panggung yang ditempati bersama istri dan anaknya sudah ambruk akibat banjir.
“Barang-barang di rumah sudah saya pindahkan ke tempat pengungsian di perbukitan. Karena kondisi rumah panggung sudah patah tiang penyangga dihantam banjir, ketinggian air banjir beberapa hari lalu mencapai 3 meter. Untuk sementara ini saya memilih tinggal di perbukitan, mengingat sekarang pun sudah ada lagi genangan air luapan sungai,” ungkap Yatim Itam.
Menurut Yatim Itam, seingatnya pertama kali terjadi banjir di Gampong Buket Linteung tahun 1986 silam. “Dulu kalau banjir dalam tiga tahun sekali, itupun tidak begitu parah seperti saat ini. Namun, selama ini terkadang dalam setahun banjir sampai empat atau enam kali,” ujarnya.
“Padahal kemarin (Jumat) sudah kering airnya di permukiman warga, tapi sekarang (Sabtu 28/1) mulai datang lagi genangannya sejak pagi. Penyababnya karena Sungai Arakundo sudah dangkal, kalau zaman dulu kondisinya masih dalam sekali sehingga debit air dapat tertampung secara kondusif,” tutur Yatim Itam.[]





