Alkisah berkuasalah Mace di sebuah negeri kaya. Negeri kaya di tepi samudra ramai. Negeri yang dibatasi dua sungai. Dibelah dan dialiri beberapa sungai lain. Negeri masyur yang pernah diceritakan penjelajah ternama.
Mace saya gelari “Ampon Cangkok”. Gelar bangsawan yang datang karena percampuran. Bukan karena keturunan. Kuasanya kini adalah tahta kedua. Mace kini bak kaisar. Tidak ada yang tak takluk padanya. Bahkan biawak dan semut di ujung negeri menyembah kakinya.
Para pembantunya jangan tanya, dia “dituhankan”. Tidak hanya orang sekampung. Tapi sanak famili menjadi pejabat negeri. Dan dia dibantu oleh sang maharani si bangsawan. Walau besluitnya penuh coretan dan bekas centeng. Mace adalah manusia tercerdik di negeri itu.
Maka para petinggi negeri itu amat terlena. Banyak manusia di negeri lain yang telah merasakan kecerdikan Mace. Baginya perkataan indah penuh tipu daya adalah seni. Perbuatan khianat adalah siasat. Maka banyak tokoh telah merasakan. Indahnya seni dan siasat Mace.
Setianya paling utama pada lembaran bergambar. Jangan tanya soal alimnya. Syal dan jubah hampir wajib. Pura pura pemujaan rajin disambanginya. Rajin bersedekah terutama sedekah jargon dan kata manis. Mereka terkadang sampai tertidur dengan mulut menganga.
Dan saya akan menceritakan sebuah kisah. Alkisah, satu tahun sebelum masehi. Penduduk negeri mencoba bibit gandum baru. Kabarnya hasilpun melimpah. Sampailah cerita sukses ini ke telinga Mace. Dalam sebuah rapat negeri, ia begitu bangga menceritakan sukses ini. Tepuk tangan bergema. Saking bangga kumis Mace bertegakan beberapa menit.
Akhir kalamnya ia menganjurkan seluruh anak negeri menyemai bibit gamdum baru. Oleh rakyat ini disambut gempita. Dalam semangat itu mereka memuji Mace sebagai pemimpin terhebat.
Namun itu tidak beelangsung lama. Tetiba saja pembantu menteri penjaga kebun dan hutan mengeluarkan sabda. Dalam maklumatnya dia melarang petani menabur benih baru. Alasannya sang benih belum diwahyukan tuhan. Benih itu juga keluar surat dari daun lontar.
Nah, di sebalik itu. Para pembangkang dan kaum murtad di negeri itupun turut meradang. Mereka yang selama ini bersembunyi di paret paret kota berteriak. Mereka melihat momen ini untuk menjatuhkan Mace.
Cerita inipun saya tulis berdasar kisah dari pemurtad itu. Menurut mereka Mace sedang memainkan jurus mabuk ala sam gu kong.
Menurut pembangkang murtad itu, menteri penjaga kebun dan hutan dijadikan mata tombak. Mace menembak para penjual bibit baru. Sebab mereka mungkin dapat untung. Dari penjualan bergoni goni. Tapi mereka lupa menyetor pajak dan upeti ke Mace. Maklumat pelarangan itu adalah siasah.
Tentu saja temgkulak bibit baru terkejut. Bukan karena petir. Tapi siasah Mace menghadang mereka. Maka sumpah serapah tumpah ruah. Rakyat dan pembangkang mengutuk maklumat tuan menteri. Sang menteri dianggaap lancang. Berani melawan perintah lisan Mace dengan selembar maklumat bercap kerajaan.
Pemberontak dan pendukung Mace sepakat, sang menteri layak dikutuk jadi bunglon. Dihina layak anjing kurap beramak dalam pura. Dan sejarah negeri utara itu mencatat. Pembangkang dan pemberontak murtad bersepakat. Bahwa sang menteri telah mempermalukan sang kaisar Mace. Mereka sangat ingin melihat sang Mace mengukung menteri pembangkang itu.
Mace sendiri sangat puas atas kejadian ini. Dia berhasil melakukan dua hal besar. Dari kasus benih baru. Mempersatukan pendukungnya dengan pemberontak murtad. Kedua menggertak tengkulak benih untuk menyetor upeti.
Mace memang cerdik. Tujuannya sampai tanpa cacat. Mace bahagia karena kecintaannya atas takhta. Dan lembaran bergambar akan tumpah dari selokan.
Maka Mace adalah pembuat sejarah. Menduduki dua tahta dengan modal mulut manis nan cerdik.[]






