ACEH UTARA – Peluncuran pengapalan dan ekspor perdana minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) sekitar 6.000 metrik ton (MT) ke India sudah dilakukan di Pelabuhan Umum Krueng Geukueh, Aceh Utara, Senin, 11 November 2019, sore. Launching itu bersamaan dengan peresmian Bulking Terminal Facility Pusat Logistik Berikat (PLB) PT Aceh Makmur Bersama di Kompleks Pelabuhan Umum Krueng Geukueh.
Direktur Utama PT Aceh Makmur Bersama (AMB), Petrus Budiyanto, mengatakan kapal akan berlabuh di Pelabuhan Umum Krueng Geukueh, Selasa (besok) pagi. “Habis muat di Dumai (Riau), kita punya last spot (tempat terakhir) di Krueng Geukueh ini, lebih kurang 6.000 ton. Setelah selesai muat (CPO) di sini, Rabu pagi kapal sreng out (keluar) menuju Kandla,” ujar Petrus kepada para wartawan usai launching pengapalan dan ekspor perdana CPO di Pelabuhan Umum Krueng Geukueh.
Disinggung kapan akan dilanjutkan ekspor CPO Aceh berikutnya ke India, Petrus mengatakan, “Diperkirakan akhir bulan ini atau awal bulan depan akan ekspor lagi”.
Menurut Petrus, lebih kurang 6.000 MT CPO ekspor perdana itu dibeli oleh Just Oil and Grain Pte Ltd., Singapore, di India. “Yang beli perusahaan Just Oil. Kita (PT AMB) adalah jasa tank storage (tanki penyimpanan). Ini kan PLB (Pusat Logistik Berikat), jadi nanti tank ini dipakai grupnya Just Oil, dia punya local company (perusahaan lokal) PT Agritrade Cahaya Makmur, dia yang called (menghubungi) kita sebagai penyedia jasa,” tuturnya.
Ditanya berapa nilai uang dari 6.000 MT CPO yang diekspor itu, Petrus menyebutkan, “Sekarang sekilo Rp8000, (totalnya 6.000 ton CPO nilainya) hampir Rp50 M kan. Jadi, sebenarnya prospek CPO Aceh cukup besar. Selama ini dibawa ke Belawan (Sumatera Utara), betul kan? Kalau (ekpsor melalui Pelabuhan Krueng Geukueh) ini kita betul-betul untuk majukan Aceh”.
Menurut Petrus, dengan diekspor CPO melalui Pelabuhan Krueng Geukueh maka akan lebih hemat biaya transportasi. “Sederhana aja, misalnya dari segi transportasi logistik. Contoh gampangnya, di Lhokseumawe dan sekitarnya punya banyak palm oil (minyak kelapa sawit), kalau bawa ke Belawan you (kamu) kena 200 perak/kg, jadi kalau per ton Rp200 ribu, sekarang suruh kirim sini cuma berapa perak (rupiah), penghematan Rp100 ribu-Rp200 ribu/ton. Saya kira yang punya (CPO) pun lebih senang. Yang mengangkut juga bisa bolak balik beberapa kali sekitar Aceh, otomatis frekuensinya tinggi,” paparnya.
Dia menyebutkan, pihaknya mengeluarkan investasi sekitar Rp30 miliar untuk membangun fasilitar terminal penyimpanan CPO itu. “(Kapasitas tangki CPO di Pelabuhan Krueng Geukueh) sementara ini 9.500 (ton). Kita akan bangun terus, kalau bisa seluruh Aceh terkumpul di sini,” kata Petrus.
Kemudahan bagi pelaku ekspor CPO tersebut, Petrus mengatakan, tidak perlu membayar pajak pertambahan nilai (PPN). “Dia kalau masuk sini pemerintah enggak ngecas PPN dengan catatan minyaknya dipakai untuk ekpsor. Menguntungkan buat produsen sama customer (pelanggan) yang ingin beli minyak tanpa PPN. Makanya kita terima kasih kepada Kanwil Bea Cukai Aceh yang sangat mendukung (ekspor CPO itu),” ucapnya.[]
Lihat pula: Ini Kata Mualem Soal Ekspor CPO ke India



