Jumat, Juli 19, 2024

Samsul Azhar Dilantik sebagai...

BANDA ACEH - Pj. Gubernur Aceh, Bustami Hamzah, melantik Samsul Azhar sebagai Pj....

Ini Kata Camat Tanah...

ACEH UTARA - Pemerintah sedang melakukan pendataan bangunan yang rusak akibat diterjang badai...

JPU Tuntut Lima Terdakwa...

BANDA ACEH - Jaksa Penuntut Umum menuntut empat terdakwa perkara dugaan korupsi pada...

Abu Razak Temui Kapolda,...

BANDA ACEH – Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh H. Kamaruddin...
BerandaBerbagi Pengalaman Tanggap...

Berbagi Pengalaman Tanggap Bencana di Negeri Sakura

TOKYO – Aceh merupakan daerah yang rawan bencana di Indonesia. Tentunya masih segar dalam ingatan kita tentang musibah tsunami 26 Desember 2004 lalu yang telah mengakibatkan hilangnya 240.000 lebih jiwa. Untuk mempelajari bagaimana cara mengurangi dampak bencana dan untuk menciptakan masyarakat yang sigap bencana, kami berkesempatan mengunjungi Kota Kobe, Jepang. 

Program sponsor IATSS Forum ini juga turut mengunjungi kantor penangulangan bencana kota Kobe.

Seperti diketahui, gempa bumi besar pernah terjadi di Kobe. Gempa tersebut dikenal dengan sebutan Hanshin-Awaji, yang terjadi pada 17 Januari 1995 sekitar pukul 5:46 waktu setempat. Episentrum gempa berada di sebelah utara Pulau Awaji yang terletak di bagian selatan Prefektur Hyogo. 

Gempa bumi ini disebabkan oleh tiga lempeng yang saling berbenturan, yaitu lempeng Filipina, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia. Gempa yang berlangsung selama 20 detik ini mengakibatkan kerusakan besar Kota Kobe, yang terletak sekitar 20 km dari pusat gempa.

Sebanyak 6.433 jiwa warga Kota Kobe menjadi korban dalam bencana terburuk dalam sejarah Jepang, setelah gempa Kanto pada 1923 lalu. Saat itu, korban jiwa akibat gempa Kanto mencapai 140 ribu orang. 

Jepang membangun sebuah museum untuk mengenang bencana gempa tersebut di Kota Kobe. Dan kami berkesempatan berkunjung ke museum tersebut. 

Selain itu, peserta forum kepemimpinan ASEAN-Jepang 2016 juga berkesempatan mempresentasikan hal-hal yang perlu dipelajari dari Tsunami Aceh 2004 lalu. Presentasi ini turut didengar oleh pemerintah daerah dan pejabat penanggulangan bencana Kota Kobe.

Salah satu hal yang kami sampaikan adalah kearifan lokal Smong dari Pulau Simeulue yang mampu menyelamatkan banyak masyarakat ketika tsunami datang. Di sisi lain, masyarakat Kobe dan pemerintah Kota Kobe sangat ingin berbagi pengalaman dengan masyarakat Aceh dalam rangka mengurangi dampak bencana di masa yang akan datang. Mereka berharap kerjasama penanggulangan bencana antara Pemerintah Aceh dan Kobe terjalin di masa yang akan datang. 

Di Kobe, kami juga mempelajari respon pemerintah jika terjadi gempa. Termasuk pemberitahuan melalui sms jika lindu terjadi. Selain itu pemerintah setempat juga melakukan simulasi bencana sebanyak dua kali dalam setahun. Mereka segera mengungsikan warganya ke tempat yang aman jika gempa terjadi.

Hal yang menarik lainnya di Kobe adalah bangunan yang dibuat tahan gempa dengan pondasi bangunan yang fleksibel. Hal ini merupakan sebuah kemajuan di bidang infrastruktur yang bisa kita tiru untuk pembangunan di Aceh, yang juga rawan gempa.[]

Penulis adalah Said Achmad Kabiru Rafiie, SE, MBA, Dosen Universitas Teuku Umar- Perwakilan Indonesia dalam forum ASEAN-Jepang IATSS 2016.

Baca juga: