Karya: Taufik Sentana*

Di sekitar kita berhala berhala
Yang datang dari kebodohan dan kepintaran kita.
Atau berhala berhala itu sengaja kita buat
Dalam keyakinan dan paham paham kita sendiri
Hingga ia menjadi batasan yang melampaui Ajaran Langit.

Di sekitar kita beratus ratus berhala
Yang bisa muncul dari kepala, tangan dan kaki kita.
Berhala berhala itu bermunculan setiap detik,
Atau ia muncul dari meja meja kerja
Dan keputusan keputusan dalam setiap rapat.

Bercerminpun kita mesti berhati hati
Bisa mewujud berhala pongah dan angkuh diri
Sebab merasa tersucikan diri.
Apatah lagi saat memandang ke setiap wujud
Dan setiap peristiwa, bisa menjelma berhala pula
Dari ketidak-pahaman dan kedangkalan sendiri.

Berhala berhala itu mungkin bukan berupa patung patung
Tapi dengan berhala itu kita merasa khusuk dan bangga
Entah dengan ilmu atau harta, kemiskinan 
dan kedudukan.

Berhala berhala itu adalah racun keimanan kita
Yang bisa membawa binasa tanpa kita sadari.
Maka selalulah kita berlindung
Dan memohon Inayah Rabbi agar terilhami
Dalam setiap harap dan takut
Agar berhala berhala itu tak mewujud di diri
Dan di sekitar kita.[]

*Peminat sastra sufistik
Bentuk syair “Berhala” sejenis, pernah dipopulerkan oleh Emha Ainun Nadjib, era 90an.