Taufik Sentana
Praktisi Pendidikan Islam
Pernah dikisahkan dalam buku panduan moral ala pesantren yang bersumber dari pendidikan Mesir, alqiraah arrasyidah, bahwa ada seorang ayah yang ingin agar anaknya tidak lagi menggantungkan diri pada harta keluarganya. Ia ingin anak itu bekerja, apapun jenis pekerjaan tersebut yang sesuai dengan bidang dan minatnya.
Sebab telah banyak diketahui bahwa waktu yang terbuang percuma dan waktu yang kosong tanpa aktivitas bisa merusak kehidupan seseorang, bahkan bisa merusak kehidupan orang lain. Sampai sampai Nabi Kita Bersabda bahwa seorang yang mengumpulkan ranting pohon di hutan sebagai kayu bakar dan menjualnya di kota adalah lebih baik dari berpangku tangan dan meminta minta.
Namun si anak tadi memiliki ibu yang memanjakannya. Sehingga si ibu tidak ingin anaknya bekerja, dan merelakan anaknya menghabiskan waktu begitu saja dan pulang ke rumah saat sore hari. Sesampai di rumah si Ibu memberikan uang senilai hasil kerja yang lazim pada masa itu. Lalu uang dari ibunya itu ia serahkan ke ayahnya. Hanya saja sang ayah merasa tidak yakin dengan apa yang diberikan oleh anaknya. Maka setiap kali ia menerima uang dari anaknya itu, ia membuang uang itu lewat jendela kamarnya. Begitulah yang ia lakukan setiap hari.
Sampai suatu hari muncul ucapan dari si anak
“Wahai ayah, janganlah engkau buang uang yang aku berikan kepadamu. Karena sesungguhnya uangku yang kali ini adalah hasil usaha dan hasil keringatku sepanjang hari. Dan aku sudah merasakan bagaimana beratnya mencari rezeki sehingga aku mulai merasakan manisnya bekerja.Sedangkan tabungan ibu sudah habis aku gunakan.”
Demikianlah sepotong kisah moral tentang bagaimana pentingnya peran yah-ibu menanamkan nilai bekerja dan tanggung jawab pada diri sang anak.[]


