BANDA ACEH – Realisasi anggaran yang melambat diharap menjadi perhatian pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi Aceh. Meskipun demikian ada beberapa hal yang dinilai mendukung perekonomian Aceh seperti pertanian, konstruksi, dan perdagangan yang dinilai mampu menjadi sektor pertumbuhan besar untuk proporsi PDRB Aceh.

Demikian disampaikan Staf Perwakilan Bank Indonesia Bidang Analis Tim Assesmen Ekonomi Keuangan, Akhmadginulur, saat diwawancarai portalsatu.com di Kantor BI Perwakilan Aceh, Banda Aceh, Kamis, 23 Maret 2017.

“Faktor lain terkait dengan realisasi APBA, mungkin harus ditingkatkan agar ekonomi Aceh tumbuh optimal,” katanya.

Menurutnya di satu sisi ada hal yang bisa meningkatkan perekonomian Aceh. Namun, di sisi lain terdapat resiko. “Tapi ini masih dalam kisaran risiko, bukan fakta. Karena untuk faktanya sendiri baru bisa kita lihat setelah dikeluarkan data PDRB-nya oleh BPS (Badan Pusat Statistik) pada bulan Mei mendatang,” kata Ahmad.

Dia mengatakan ada dua faktor yang dilakukan BI dalam asessment perekonomian. Pertama PDRB kemudian inflasi. Namun, untuk kondisi saat ini inflasi terjadi karena sedang musim panen dan harga relatif stabil. Dalam diskusi Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) beberapa waktu lalu, diketahui angka pertumbuhan ekonomi tiap tahun menurun. Sejak 2013 lalu, kata Ahmad, angka pertumbuhan ekonomi Aceh berada di bawah target.

Di sisi lain, BI menggarisbawahi realisasi anggaran untuk menjaga pertumbuhan ekonomi pasca Pilkada. Menurut Ahmad, selama realisasi APBA berjalan dengan baik, perekonomian Aceh bisa tumbuh lebih baik dari sebelumnya.

“Cuma ada beberapa faktor yang dikhawatirkan. Seperti gubernur baru harus melakukan konsolidasi terlebih dahulu agar realisasi anggarannya bisa optimal,” ujarnya.

Hal lain yang dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi Aceh di triwulan pertama ini adalah polemik pergantian SKPA. “Jadinya kami khawatirkan realisasi anggarannya bisa terhambat, maka diperlukan solusi atas hal tersebut,” katanya.

Dia mengatakan realisasi anggaran menjadi salah satu strategi meningkatkan ekonomi Aceh untuk jangka pendek. Bahkan, kata dia, kalau bisa semua proyek harus direalisasikan awal tahun.

Sementara untuk strategi jangka menengah, Pemerintah Aceh memerlukan sektor baru untuk memajukan perekonomian. Apalagi Aceh baru saja kehilangan sektor pertambangan Arun. 

“Kalau yang kita lihat potensialnya ada dua, yaitu agroindustri dan pariwisata. Terkait agroindustri itu, Aceh sekarang kebanyakan mengekspor bahan mentah, akan lebih baik bernilai tambah, itu diolah dulu,” katanya.

Sementara terkait pariwisata, menurut Ahmad, Aceh sudah memiliki budaya yang bagus. Aceh juga memiliki alam yang bagus. “Namun, sayangnya untuk pengelolaan belum ada, yang bisa memberikan keuntungan besar. Hotel masih sedikit, kawasan wisata belum terintegrasi. Kedepan pemerintah meningkatkan perhatian di dua sektor tersebut,” ujarnya.

Ahmad juga menyebutkan untuk strategi jangka panjang adalah mempersiapkan beberapa pembangkit listrik. Menurut Ahmad, hal ini menjadi langkah bagus dalam menggenjot perekonomian daerah.

“Kami kira itu langkah bagus, tapi kelemahannya itu selalu pengelolaannya,” ujarnya.[]

Laporan: Taufan Mustafa