BANDA ACEH – Hasil kajian Bank Indonesia (BI) mengungkapkan ekonomi Aceh dalam 10 tahun terakhir didominasi lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan. Aceh harus mengoptimalkan nilai tambah dari komoditas hasil lapangan usaha tersebut untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Saat ini, nilai tambah sektor pertanian terlihat tertransmisikan langsung ke sektor perdagangan tanpa melalui industri pengolahan.

Menurut BI, ekonomi Aceh harus dapat bertransformasi menjadi sentra industri hilir agrikultur dan perikanan. “Peningkatan iklim investasi dan inovasi merupakan pekerjaan rumah utama jika Aceh ingin bertransformasi dari daerah penghasil bahan baku pertanian, kehutanan dan perikanan menjadi sentra industri hilir agrikultur dan perikanan,” tulis BI dalam “Laporan Perekonomian Provinsi Aceh Februari 2021” dipublikasikan melalui bi.go.id sejak 8 Maret 2021, dilihat portalsatu.com/, 25 April 2021.

Baca juga: Ini Hasil Kajian Bank Indonesia Soal Ekonomi Aceh 2020

Selain itu, menurut BI, Aceh harus fokus mengembangkan SDM yang andal pada sektor tersebut. Pusat-pusat pendidikan vokasi pada sektor agrikultur dan perikanan harus dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan transformasi. Pada level perguruan tinggi, dibutuhkan peraturan untuk mewajibkan perpanjangan masa on the job training bagi mahasiswa pada sektor tersebut.

Berikut selengkapnya saran/masukan dari Bank Indonesia tentang Strategi Pemulihan Ekonomi Aceh Setelah Pandemi:

COVID-19 telah mengakibatkan disrupsi perekonomian dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Namun, walaupun efek pandemi ini terjadi hampir di seluruh negara di dunia, periode penyebaran, tingkat disrupsi dan kemampuan setiap negara dalam merespons shock tersebut berbeda-beda.

Negara-negara maju rata-rata telah memiliki sumber daya dan infrastruktur yang baik untuk mengatasi pandemi. Negara berkembang, termasuk Indonesia, yang sedang berusaha membangun ekonominya untuk menjadi negara maju mendapatkan tantangan yang cukup berat.

Besarnya dampak yang ditimbulkan oleh pandemi COVID-19, membuat pemerintahan Indonesia dan berbagai otoritas terkait, termasuk Bank Indonesia, saling bahu-membahu untuk dapat menekan penyebaran virus corona.

Tak jauh berbeda, Pemerintah Aceh pun melakukan berbagai cara untuk menahan laju penambahan kasus positif COVID-19. Pembatasan aktivitas sosial pada tahun 2020 dilaksanakan dengan membatasi operasional restoran/kafe, menutup operasional pusat perbelanjaan, menutup tempat ibadah dan memberlakukan belajar dari rumah bagi siswa/i dan mahasiswa/i sehingga kegiatan masyarakat di luar rumah dan kontak fisik dapat diminimalisir.

Seraya dengan itu, pemerintah pusat pun mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menahan ekonomi agar tidak terkontraksi terlalu dalam dan cepat untuk kembali recovery.

Sejalan dengan hal tersebut, untuk menghadapi kondisi new normal, Aceh diharapkan dapat segera menyesuaikan kondisi dan menyusun strategi untuk dapat melanjutkan pertumbuhannya setelah pandemi.

Ekonomi Aceh pada 10 tahun terakhir yang didominasi Lapangan Usaha (LU) Pertanian, Kehutanan dan Perikanan diharapkan mampu mengoptimalkan nilai tambah dari komoditas hasil LU tersebut.

Saat ini, nilai tambah sektor pertanian terlihat tertransmisikan langsung ke sektor perdagangan tanpa melalui industri pengolahan. Hal ini terlihat dari sektor perdagangan menjadi penyumbang ekonomi Aceh terbesar kedua, sedangkan industri pengoalahan mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

Guna menghadapi new normal, ekonomi Aceh harus dapat bertransformasi menjadi sentra industri hilir agrikultur dan perikanan. Berdasarkan tren sebelum pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa perdagangan telah berorientasi pada perdagangan antarregional. Nilai perdagangan intra-Asia telah meningkat hampir 4 kali lipat dalam kurung waktu 2000-2019, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan perdagangan global yang hanya tumbuh 2,8 kali. Di sisi lain, ekspor Tiongkok pada produk-produk manufaktur padat karya menurun 3% dari kurun waktu 2014-2016, di mana manufaktur padat karya bergeser ke pasar kerja Asia Tenggara sebagai tujuan utama relokasi tersebut.

Aceh yang memiliki lokasi dan potensi strategis harus dapat mengambil posisi dalam tren pergeseran tersebut.

Beberapa kegagalan rencana investasi baik ke Indonesia maupun Aceh harus menjadi evaluasi. Peningkatan iklim investasi dan inovasi merupakan pekerjaan rumah utama jika Aceh ingin bertransformasi dari daerah penghasil bahan baku pertanian, kehutanan dan perikanan menjadi sentra industri hilir agrikultur dan perikanan.

Beberapa kisah sukses dari negara ASEAN dalam menarik investasi harus menjadi pelajaran dalam penyusunan rencana aksi. Salah satu negara ASEAN yang berhasil menarik investasi adalah Thailand, melalui peraturan-peraturan yang mendukung negara tersebut untuk menjadi sentra pabrik mobil listrik dalam 5 tahun ke depan. Kebijakan tersebut di antaranya kewajiban pengunaan mobil listrik di lingkungan pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Selain itu, Sumber Daya Manusia (SDM) yang andal pada sektor industri hilir agrikultur dan perikanan juga harus menjadi fokus pengembangan. Pemetaan ulang kebutuhan supply-demand tenaga kerja sesuai dengan arah transformasi dibutuhkan untuk refocusing kemampuan SDM Aceh. Pusat-pusat pendidikan vokasi pada sektor agrikultur dan perikanan harus dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan transformasi. Selanjutnya, pada level perguruan tinggi, dibutuhkan peraturan untuk mewajibkan perpanjangan masa on the job training bagi mahasiswa pada sektor tersebut, sebagai perantara mahasiswa menuju dunia kerja. Fiskal pemerintah Aceh yang kuat juga dapat diarahkan untuk meningkatkan kapasitas SDM melalui training pada sektor tersebut kepada SDM yang sudah ada.

Pandemi COVID-19 telah menjadi ujian bagi kemanusiaan maupun ekonomi. Langkah selanjutnya adalah memacu ekonomi yang berkelanjutan melalui penentuan roda ekonomi utama di daerah.

Untuk merealisasikannya, pemerintah harus dapat menentukan kebijakan dan mengarahkan belanja modal untuk berinvestasi dalam kebijakan yang dapat menciptakan lapangan kerja guna meningkatkan ekonomi di tahun-tahun mendatang. Sebagai strategi jangka pendek, percepatan realisasi anggaran pemerintah dapat menjadi motor pengerak perekonomian.[](nsy/*)

Lihat pula: Prospek Ekonomi Aceh 2021 dan Delapan Rekomendasi Bank Indonesia, Apa Saja?