LHOKSEUMAWE – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Lhokseumawe menggelar Festival Meurah Silu (FMS) 2026 di Harun Convention Hall, Cunda, Kota Lhokseumawe, pada 31 Oktober hingga 1 November 2026.

Festival tahunan itu menjadi ajang promosi produk unggulan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pengembangan ekonomi kreatif, pelestarian budaya, sekaligus mendorong pemanfaatan transaksi digital di tengah masyarakat.

Berbagai kegiatan menarik dihadirkan dalam festival tersebut. Di antaranya, QRIS Wakaf Run dan edukasi transaksi digital, Bazaar & Expo UMKM yang menampilkan produk unggulan dari pelaku usaha di wilayah kerja BI Lhokseumawe, serta Lomba Wastra dan talkshow yang berkolaborasi dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) untuk mengangkat kekayaan wastra Aceh.

Selain itu, festival juga dimeriahkan dengan Samamasa Band & Bankers Idol, Aceh Modest Fashion Design Competition x Dekranasda, layanan kas keliling penukaran uang rupiah pecahan kecil, dan talkshow bertema “Pengembangan Wastra Aceh: Heritage to Global Trend”.

Sejumlah kegiatan lainnya juga digelar seperti Lomba Cerdas Cermat Kebanksentralan, donor darah, lomba mewarnai tingkat SD/MI sederajat, hingga penampilan bintang tamu Apache.

Rangkaian Festival Meurah Silu tersebut dijadwalkan ditutup pada Ahad (1/11) malam, diakhiri Tabligh Akbar yang menghadirkan penceramah Dr. Ali Zaenal Abidin Alkaff, Lc., M.E., atau Habib Ali Alkaff sekitar pukul 20.00 WIB.

Kepala KPwBI Lhokseumawe, Yudo Herlambang, mengatakan festival tersebut melibatkan sebanyak 50 UMKM dari 10 kabupaten/kota di wilayah kerja BI Lhokseumawe. UMKM itu menghadirkan beragam produk unggulan mulai dari wastra atau kain tradisional, produk kriya, dekorasi, kuliner, hingga kopi Gayo.

“Jadi, kita ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa produk-produk unggulan di bawah binaan BI yang terdiri dari 10 kabupaten/kota di Aceh dapat terangkat secara nasional. Sehingga ke depannya ini bisa ditingkatkan dan memberikan multiplier effect bagi pertumbuhan ekonomi itu sendiri,” kata Yudo kepada wartawan seusai pembukaan Festival Meurah Silu 2026, Sabtu, 31 Oktober 2026.

Yudo menambahkan, Festival Meurah Silu merupakan agenda tahunan BI Lhokseumawe dengan lokasi penyelenggaraan yang berpindah-pindah. Pada tahun sebelumnya kegiatan serupa dilaksanakan di Kota Langsa. Penyelenggaraan festival tahun ini juga memiliki arti penting dalam mendukung pemulihan ekonomi Aceh pascabencana.

“Kita mengingat bahwa saat ini sedang pemulihan ekonomi Aceh pascabencana. Sehingga dengan adanya festival ini tidak hanya sekadar pesta rakyat, tetapi dapat memberi dampak ekonomi baik dari sisi perhotelan, restoran, pembelian oleh-oleh maupun lainnya bisa semakin tumbuh. Karena orang yang berkunjung banyak dari luar kota, ini yang menjadi menarik,” ujar Yudo didampingi Wali Kota Lhokseumawe, Sayuti Abubakar.

Sayuti menyatakan bahwa Pemerintah Kota Lhokseumawe mendukung penuh penyelenggaraan Festival Meurah Silu sebagai salah satu upaya mendorong pertumbuhan UMKM sekaligus mempromosikan kekayaan budaya daerah.

“Kami mengapresiasi BI yang telah menggandeng para pelaku usaha yang ada di 10 kabupaten/kota di Aceh yang berada di wilayah kerja BI Lhokseumawe. Festival ini menjadi ajang promosi atau kreativitas mereka untuk lebih dapat dikenal lagi hingga tingkat nasional,” ujar Sayuti.

Sayuti menambahkan, melalui festival itu diharapkan produk UMKM lokal semakin dikenal luas, daya saing pelaku usaha meningkat, dan mampu membuka peluang pasar yang lebih besar hingga tingkat nasional dan internasional.[]