LHOKSEUMAWE – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Lhokseumawe memaparkan perkembangan laju inflasi di Provinsi Aceh masih berada pada level yang relatif tinggi pada Juli 2026. Meski sempat melandai pada Februari hingga April seiring masuknya musim panen raya, tekanan inflasi kembali meningkat setelah berakhirnya masa panen.

Kepala KPwBI Lhokseumawe, Yudo Herlambang, Jumat, 14 Agustus 2026, menjelaskan setelah melonjak pada akhir 2025, inflasi di Provinsi Aceh dan tiga kota Indeks Harga Konsumen (IHK) sempat mengalami perlambatan pada Februari hingga April 2026. Namun, laju inflasi kembali mengalami percepatan seiring berakhirnya musim panen raya.

Yudo menyebut secara tahunan, inflasi di Provinsi Aceh dan tiga daerah IHK masih tercatat lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional, serta berada di atas sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen. Berdasarkan data perkembangan inflasi bulanan pada Juli 2026 mencapai 0,71 persen di Aceh Tengah, 0,50 persen di Aceh Tamiang, 0,24 persen di Kota Lhokseumawe, dan 0,08 persen pada tingkat Provinsi Aceh. Sedangkan secara tahunan, inflasi masih cukup tinggi yakni 7,25 persen di Aceh Tengah, 6,91 persen di Aceh Tamiang, 5,33 persen di Kota Lhokseumawe, dan 4,22 persen di tingkat Provinsi Aceh.

Menurut Yudo, beras merupakan komoditas yang paling dominan mendorong inflasi pada Juli 2026. Khususnya di Kota Lhokseumawe, inflasi dipicu oleh kenaikan harga beras, semen, nasi dengan lauk, ikan goreng, dan tomat. Di Aceh Tengah, komoditas penyumbang inflasi antara lain bensin, cabai merah, tomat, cabai rawit, dan beras. Sementara di Aceh Tamiang, inflasi terutama didorong oleh kenaikan harga beras, cabai rawit, semen, ikan bandeng/ikan bolu, serta daging ayam ras.

“Kenaikan harga beras dipengaruhi berkurangnya pasokan gabah di tingkat petani setelah musim panen berakhir. Selain itu, harga aneka cabai juga meningkat seiring dimulainya kembali musim tanam di sejumlah daerah sentra produksi,” ungkap Yudo saat kegiatan Temu Media mengusung tema “Sinergi untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan”, di Kantor BI Lhokseumawe.

Bawang Merah dan Telur Ayam Menahan Inflasi

Yudo juga menyampaikan, sejumlah komoditas justru memberikan andil terhadap deflasi pada Juli 2026. Untuk Kota Lhokseumawe, komoditas penyumbang deflasi meliputi emas perhiasan, bawang merah, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, telur ayam ras, dan cabai merah. Di Aceh Tengah, komoditas yang menahan inflasi adalah ikan bandeng/ikan bolu, biaya pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), bawang merah, emas perhiasan, serta telur ayam ras. Sedangkan di Aceh Tamiang, deflasi dipengaruhi oleh penurunan harga bawang merah, ikan biji nangka/ikan kuniran, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, cabai merah, dan ikan dencis.

“Melimpahnya pasokan bawang merah dan menurunnya permintaan telur ayam ras selama masa libur sekolah, menjadi faktor utama yang membantu meredam tekanan inflasi pada Juli 2026. Bank Indonesia akan terus bersinergi dengan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk menjaga stabilitas harga, terutama komoditas pangan strategis seperti beras, cabai, bawang merah dan komoditas lainnya, sehingga inflasi tetap terkendali dalam jangka menengah,” ujar Yudo.

Pengendalian Inflasi Tetap Menjadi Perhatian

Yudo menegaskan, Bank Indonesia tetap mencermati berbagai tantangan yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat, terutama perkembangan inflasi pangan. Berdasarkan pemantauan KPwBI Lhokseumawe, komoditas volatile food khususnya beras dan aneka cabai, menjadi salah satu perhatian dalam pengendalian inflasi di wilayah kerja.

“Untuk mengantisipasi tekanan tersebut, tentunya diperlukan penguatan sinergi antardaerah terutama dengan daerah yang memiliki potensi sebagai sentra produksi pangan. Upaya ini diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan, juga membuka peluang pengembangan ekonomi dan hilirisasi di daerah,” ucap Yudo.[]