MEMBANGUN fondasi ekonomi daerah yang tangguh tidak selamanya harus lahir dari gelontoran investasi bernilai fantastis, deretan kawasan industri megah, atau proyek-proyek berskala raksasa. Ada sebuah kekuatan ekonomi yang merayap senyap namun pasti, tumbuh langsung dari ketekunan jemari masyarakat di pelosok desa. Kekuatan itu bernama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Di balik harumnya produk lokal yang mulai melanglang buana, ada napas panjang dari sebuah proses pembinaan, penguatan kualitas, hingga keberanian untuk melompat ke panggung dunia.

Potret perjuangan inilah yang tercermin dari langkah PT Putra Gayo International (PGI), pelaku usaha dan eksportir kopi Arabika Gayo asal Kabupaten Aceh Tengah. Di bawah payung pembinaan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Lhokseumawe, mereka sukses mengusung cita rasa emas hijau tanah Gayo ke pentas global melalui ajang World of Coffee Asia 2026 di Bangkok International Trade & Exhibition Centre (BITEC), Thailand, pada 7–9 Mei 2026.

Bergabung bersama 20 UMKM kopi pilihan dari seluruh nusantara di bawah kolaborasi BI dan KBRI Bangkok, PGI melebur dalam satu identitas terpadu: “Kopi Indonesia”. Langkah ini bukan sekadar memajang stoples biji kopi di etalase pameran internasional, melainkan sebuah diplomasi rasa untuk menegaskan posisi Kopi Arabika Gayo di mata para pencinta, penikmat, dan pelaku industri kopi dunia.

Dina dan Kepuasan Berbagi untuk Orang Tua

[Salah seorang tenaga kerja lokal saat mengoperasikan mesin pengemas kopi otomatis di rumah produksi PT Putra Gayo International, Aceh Tengah. Modernisasi teknologi ini merupakan bagian dari dukungan pembinaan kapasitas produksi. Foto: Dokumen BI Lhokseumawe]

Di balik cerita sukses ekspor kontainer, ada rantai kesejahteraan yang menyentuh ruang-ruang keluarga pekerja lokal. Manfaat nyata itu salah satunya singgah di hidup Apriyandina, warga Desa Kemili, Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah. Perempuan yang akrab disapa Dina ini merasakan betul bagaimana PGI mengubah peta perekonomian pribadinya.

“Dulu saya sering meminta uang kepada orang tua. Sekarang justru saya yang bisa memberikan uang dan membantu mereka. Tentu ada kepuasan tersendiri bagi saya atas pencapaian ini sejak bekerja di Putra Gayo,” tutur Dina kepada portalsatu.com, Sabtu (10/10/2026).

Perjalanan Dina bermula dari sebuah kedai kopi kecil di Takengon sebelum masa pandemi Covid-19. Kerap berinteraksi dengan Direktur Utama PGI, Iwannitosa Putra, yang sering berkunjung ke kedai tersebut, membuka jalan kariernya. Iwan menangkap potensi visual dalam diri Dina yang piawai membidik foto dan video promosi. Setelah melewati seleksi ketat dan menyisihkan kandidat lain melalui tiga contoh video karya, Dina resmi direkrut.

Kini, Dina merangkap tanggung jawab krusial sebagai Social Media Specialist sekaligus menangani bidang Information Technology (IT) perusahaan. Ada satu momen yang tak akan ia lupakan: sebelum resmi bergabung, Bos Iwan memfasilitasinya mengikuti kursus roasting kopi profesional hingga mendapatkan sertifikasi. Bagi Dina, keramahan dan keterbukaan sang pimpinan menjadi alasan utama ia betah merajut masa depan di PGI. Lewat penghasilannya kini, Dina mampu membeli laptop dan kendaraan secara mandiri untuk mendukung mobilitas kerjanya.

Wahyudin: Menjaga Rating Kopi di Level Internasional

Dampak ekonomi PGI bergerak melebar, menyentuh hingga ke lereng-lereng perbukitan tempat para petani kopi menggantungkan hidup. Wahyudin (50), warga Desa Arul Badak, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah adalah saksi hidup bagaimana kemitraan dengan eksportir mampu mendongkrak kelas para petani.

Meniti karier dari bawah sebagai buruh kebun milik orang lain sejak 2013, Wahyudin akhirnya berhasil memiliki lahan kebun mandiri seluas 1,5 hektare pada 2017. Baginya, mengelola kopi adalah urusan fokus penuh waktu, bukan sekadar kerja sambilan.

“Kalau ingin menjadi petani kopi yang memiliki pendapatan ekonomi layak, kita harus sungguh-sungguh dan fokus mengurus kebun. Jangan menjadikan berkebun kopi sebagai pekerjaan sampingan, karena hasilnya akan sulit maksimal,” ujar Wahyudin, Minggu (11/10/2026).

Guna menjaga kelayakan ekonomi keluarga, Wahyudin menargetkan produksi minimal satu ton green bean (biji kopi mentah) per hektare dalam satu musim panen. Untuk pemasarannya, ia memilih memotong jalur perantara dan menjual langsung ke PT Putra Gayo International. Hubungan tanpa perantara ini menuntut kedisiplinan tinggi karena kopi yang disetor wajib memenuhi standar internasional, di mana harga green bean saat ini berkisar antara Rp124.000 hingga Rp125.000 per kilogram tergantung mutu.

“Kalau kita menjalin hubungan usaha dengan Putra Gayo, rating atau level kita sebagai petani bisa meningkat karena perusahaan ini sudah berada di taraf internasional,” kata Wahyudin bangga.

Meski tantangan pemulihan ekonomi pascabencana alam akhir 2025 masih membayangi kestabilan keuntungannya, Wahyudin tetap bertahan. Ia bahkan melebarkan sayap dengan ikut membeli hasil panen kebun petani lain untuk dipasok ke PGI, sekaligus membantu menghidupi dua pekerja kebunnya.

Dari 3 Kontainer Menjadi 40 Kontainer Ekspor

[Direktur Utama PT Putra Gayo International Iwannitosa Putra (kemeja hijau) bersama mitra bisnis internasional memantau langsung proses pengeringan buah kopi di fasilitas greenhouse/drying house milik PGI di Aceh Tengah. Foto: Instagram @putragayo]

Niat awal Iwannitosa Putra saat merintis kelompok tani kopi pada 2019 sangat sederhana: ia ingin meningkatkan pendapatan para pekebun di tanah kelahirannya. Mengawali langkah korporasi PT PGI pada awal 2021, Iwan sadar bahwa kopi dari petani tidak boleh sekadar dibeli lalu dijual murah. Harus ada nilai tambah.

“Kopi yang dihasilkan petani tidak sekadar dibeli, tetapi diupayakan untuk dikembangkan, sehingga dapat dipasarkan dengan nilai dan harga yang lebih baik,” jelas Iwan, Sabtu (10/10/2026).

Masa-masa awal di tahun 2021 dipenuhi keterbatasan. Buta arah soal seluk-beluk ekspor dan standar ketat pasar global, PGI mendapat momentum emas saat dipertemukan dengan Bank Indonesia Perwakilan Lhokseumawe melalui Pemkab Aceh Tengah. BI masuk membawa intervensi digital, pelatihan laporan keuangan SIAPIK, hingga kucuran teknologi modern seperti grinder (alat untuk menggiling biji kopi), rumah penjemuran (greenhouse), dan mesin otomatis sortex color.

Proses di dapur PGI pun berubah total demi menjaga kualitas premium. Kopi yang diterima dari petani di fasilitas wet mill harus berupa cherry merah dengan tingkat kematangan 95 persen. Kopi tersebut kemudian diolah lewat berbagai metode: semi wash, full wash, honey, hingga natural, sebelum melewati proses hand sorting ketat untuk meminimalisir persentase kecacatan (defect).

Hasil dari lompatan teknologi dan manajemen ini luar biasa. Jika pada akhir 2021 PGI hanya mampu mengirim 2 hingga 3 kontainer kopi per tahun menggunakan nama perusahaan lain, kini pergerakan bisnis mereka melesat tajam. Sepanjang 2025, volume ekspor mereka naik menjadi 23 kontainer atas nama PT Putra Gayo International. Memasuki tahun 2026, kapasitasnya meroket hingga menembus 40 kontainer ekspor. Pasar utama mereka tersebar kokoh di Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, hingga mulai merambah daratan China.

Pertumbuhan bisnis ini secara otomatis menyerap tenaga kerja lokal secara masif. Dari yang awalnya hanya melibatkan 15 orang, pada tahun 2026 PGI telah mempekerjakan 23 karyawan tetap serta melibatkan sekitar 20 pekerja musiman yang mayoritas adalah kaum ibu di Takengon, Aceh Tengah, untuk proses penjemuran dan penyortiran biji kopi.

Esensi Pembinaan BI: Bukan Modal, Melainkan Mental

Kesuksesan PT Putra Gayo International merupakan salah satu permata dari total sekitar 50 UMKM binaan dan mitra BI Lhokseumawe yang tersebar di 10 kabupaten/kota di Aceh. Roda pembinaan ini merangkul keragaman produk daerah, mulai dari 12 komoditas kopi, 3 klaster kuliner, 2 kerajinan aksesori, hingga 8 lini fesyen syariah.

Namun, ada paradigma penting yang diluruskan oleh Kepala Unit Pelaksana Pengembangan UMKM, Keuangan Inklusif, dan Ekonomi Keuangan Syariah (UPPUKIS) BI Lhokseumawe, Riemas Anugrah Maulana.

“BI Lhokseumawe tidak memberikan bantuan modal usaha kepada pelaku UMKM. Pembiayaan usaha merupakan ranah perbankan maupun lembaga keuangan lainnya,” tegas Riemas, Rabu (7/10/2026).

Peran BI berfokus sepenuhnya pada penguatan kapasitas, capacity building, standardisasi kualitas produksi, digitalisasi, dan pemanfaatan sistem akuntansi. Selan itu, membuka akses pasar makro melalui forum business matching dan kurasi pameran bergengsi nasional-internasional seperti Karya Kreatif Indonesia (KKI) serta Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF).

Bagi Riemas, kesuksesan sejati sebuah UMKM untuk naik kelas bukan diukur dari seberapa sering mereka menerima bantuan, melainkan dari komitmen dan perubahan mental pelaku usahanya.

“Sama saja diberikan bantuan pelatihan pendampingan, kalau dari merekanya (pelaku UMKM) setelah itu tidak di-upgrade,” tukas Riemas mengingatkan.

Kisah sukses Kopi Arabika Gayo bentukan PGI yang berhasil menembus pasar dunia menjadi bukti sahih bahwa produk yang lahir dari keringat petani di pelosok daerah memiliki tempat terhormat di pasar global. Ketika ekosistem pembinaan yang tepat bertemu dengan ketekunan wirausaha lokal, aroma secangkir kopi dari dataran tinggi Gayo tidak lagi sekadar menjadi kebanggaan lokal, melainkan identitas bangsa yang diakui dunia. Dari biji kopi di petak kebun, sebuah peradaban ekonomi baru di Aceh sedang dirajut dengan harum.[]