“Ah, namanya anak-anak, biasalah melanggar, nanti sadarnya sendiri,” kata seorang kawan tentang perilaku balapan liar.

“Orang tuanya menyayangi anak dengan cara yang salah,” gumam saya.

Sahabat!!!

Semua orang sayang anak. Berusaha sekuat tenaga demi anak. Agar anak-anak bisa lebih baik dari hidup kita. Memilihnya sekolah yang baik. 

Apakah semua itu cukup? Tentu saja semua itu harus dibarengi dengan contoh baik. Ada orang tua melarang anak merokok. Tapi membawa dan mengisap rokok di rumah. Bahkan, meminta tolong anak-anak untuk membeli rokok.

Ada orang tua memaknai kasih sayang dengan cara yang salah. Misalnya, membolehkan pemakaian kenderaan bermotor walau belum cukup umur. Atau memberi telepon pintar.

Limpahan kasih sayang yang salah. Akan menghasilkan yang salah. Contoh salah akan ditiru. Dan membentuk kepribadian si anak. Bahkan, kita menyesal setelah si anak celaka. Atau ketika dia menjadi penyakit bagi masyarakat dan keluarga.

Mungkin kita belajar dari terdahulu. Tapi kita pasti tahu salah benar. Mendidik tidak cukup dengan membuat anak senang kini. Tapi membentuk karakter yang baik dan benar. Bukan melulu mengikuti maunya dia. Tapi lebih pada pertimbangan kemaslihatan dia.[]