BANDA ACEH – Adanya unsur ikhlas merupakan salah satu ruhnya ibadah, serta segala amal saleh dan kebaikan yang dikerjakan seorang muslim dalam kehidupan untuk mengabdi kepada Sang Khalik, selain dilaksanakan dengan benar sesuai perintah Allah SWT dan tuntunan Rasul-Nya.
“Tanpa adanya ikhlas dalam hati kita maka setiap ibadah yang kita lakukan akan sia-sia dan tidak akan bernilai di mata Allah SWT, meskipun itu dicatat sebagai amal kebaikan malaikat,” ujar Ustaz Fahmi Sofyan, Lc., M.A., dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Banda Aceh, 9 Agustus 2017, malam.
Namun, keikhlasan dalam amalan-amalan ibadah seperti salat, puasa, zakat, haji dan amal-amal lainnya yang tampak di mata manusia atau pada amalan yang memberikan manfaat bagi orang lain seperti bersedekah sangatlah berat. Bahkan, terkadang bisa mengarah kepada ria sehingga pelakunya akan mendapatkan kemurkaan dan hukuman dari Allah kelak.
Ustaz Fahmi menyebutkan, untuk bisa mencapai tingkatan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah, ini tidak akan bisa diraih begitu saja jika tak membiasakan suatu ibadah itu dikerjakan secara rutin dan disiplin. “Tidak bisa kita merasa ikhlas jika kita tidak terbiasa dengan suatu ibadah seperti shalat berjamaah, sedekah atau baca Alquran. Mari kita biasakan ibadah dan amal saleh untuk timbul ikhlas, bukan sebaliknya ikhlas dulu baru beribadah. Tidak mungkin itu,” ujarnya.
Ia mengumpamakan seseorang yang rela duduk berjam-jam menghabiskan waktu di warung kopi dengan nyaman sangat ikhlas karena itu sudah menjadi kebiasaan. Juga sama halnya dengan orang yang rela nonton bola pada tengah malam karena sudah menjadi kebiasaan dan kebutuhan, dan jika tidak dilakukan tidak akan merasa tenang.
“Sama halnya seperti orang yang terbiasa minum kopi dan merokok tiap hari, satu hari tidak minum kopi dan merokok, sakit kepalanya dan tidak nyaman karena sudah menjadi kebutuhan hidup. Begitu juga dengan ibadah, jika sudah menjadi kebiasaan dan kebutuhan, maka sekali saja kita tinggal shalat berjamaah sudah susah dan tidak tenang. Kebiasaan secara terus menerus seperti ini akan membawa kepada keikhlasan dalam mengerjakannya,” ungkapnya.
Dai kondang ini menambahkan, agar suatu amal ibadah itu bisa menjadi kebiasaan hingga rutin dikerjakan, tentu harus diawali dengan tekad yang kuat dengan penuh kesabaran hingga mencapai 40 hari.
“Untuk biasakan ikhlas harus sabar. Pergi ke masjid sabar untuk shalat berjamaah meski lelah sedikit lama-lama akan bisa rida. Biasakan 40 hari shalat berjamaah, sedekah, baca Alquran, berzikir, duduk di masjid dan ibadah lainya. Paksa diri sedikit supaya muncul ikhlas. Lalu hari ke-41 sudah muncul ridha dan lahirlah ikhlas,” jelasnya seraya menambahkan semua itu harus diawali dengan niat pantang menyerah.
Ia melanjutkan, ikhlas adalah sebuah rahasia yang hanya diketahui manusia pelaku amal saleh dan Allah saja. Tiada yang tahu selain keduanya, bahkan malaikat pencatat amal maupun setan penggoda manusia juga tidak tahu.
Ikhlas adalah dedikasi tulus demi mencari ridha Allah, terbebas dari noda, keburukan dan niat jahat. Siapa yang beramal disertai dengan niat dan keinginan mencari tujuan selain Allah maka amalnya akan gugur dan ia tidak akan mendapat balasan apapun dari Allah Yang Maha Pemurah.
Dalam Alquran, Allah juga sangat jelas memerintahkan untuk ikhlas beribadah ini hanya semata-mata karena-Nya, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Bayyinah ayat 5 yang artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (ikhlas) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan meunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
Ketika Allah mengusir iblis dari surga, ketika itu iblis bersumpah akan menyesatkan umat manusia sampai hari kiamat. Namun atas pengakuan iblis sendiri bahwa hanya orang-orang yang ikhlas saja yang tidak dapat dia sesatkan.
“Mengapa iblis tidak bisa menyesatkan orang-orang yang ikhlas atau menyimpangkannya dari jalan kebenaran? Itu dikarenakan mereka orang-orang yang senantiasa menjadikan seluruh aktivitas ibadahnya hanya untuk Allah saja, bukan untuk ria atau mencari kemasyhuran di mata manusia. Keikhlasannya menjadi benteng dan pertahanan yang sangat kokoh untuk bisa ditembus oleh setan apalagi dikuasai oleh mereka,” ujarnya.[](rel)

