LHOKSUKON – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Unit Pelaksana Teknis Balai Pelestarian Nilai Bidaya (BPNB) Aceh melaksanakan program Bioskop Keliling di dua lokasi terpisah di Aceh Utara, Selasa dan Rabu, 22-23 Desember 2020. 

Di Museum Islam Samudra Pasai (MISP) yang berada di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Selasa/hari ini, Bioskop Keliling itu memutar tiga film pendek, salah satunya berjudul Smong. Dua film lainnya berjudul Kekeberen dan Sehelai Kain. Bioskop Keliling itu juga akan hadir di SMPN 1 Tanah Luas, Rabu/besok.

Kepala Museum Islam Samudra Pasai, Nurliana NA., mengatakan tiga film yang diputar di museum ini ditonton oleh para murid dan guru-guru dari SMPN 1 Baktiya Barat, juga beberapa guru SD yang lokasinya dekat dengan museum. Selain itu, para Duta Museum dan anggota Cisah. Kegiatan itu tetap mengikuti protokol kesehatan. Semua peserta diminta memakai masker.

“Khusus guru-guru yang pernah belajar bersama museum, kita undang untuk nonton Bioskop Keliling di SMPN 1  Tanah Luas, Rabu/besok,” ujar Nurliana.

Menurut Nurliana, tiga film yang diputar di MISP mengandung pesan-pesan dan ilmu pengetahuan kepada masyarakat. “Film Smong, misalnya, yang menceritakan tentang tsunami yang melanda Simeulue tahun 1907. Smong merupakan bahasa Simeulue untuk menyebut tsunami. Pengetahuan bagi kita (dari kearifan lokal Simeulue yang ditampilkan lewat film Smong itu), ketika terjadi gempa dan air laut surut, kita jangan ke laut, tapi harus cari tempat yang jauh lebih tinggi seperti perbukitan,” tutur Nurliana yang juga Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara.

Peneliti BPNB Aceh, Agung Suryo Setyantoro, menyebutkan Bioskop Keliling merupakan program rutin Kemendikbud. “Tahun-tahun sebelumnya tim BPNB keliling kabupaten kota melakukan pemutaran film di tempat-tempat terbuka. Salah satu tujuannya menanamkan karakter pada anak-anak muda atau anak sekolah. Mengenalkan budaya budaya kepada mereka,” ujar Agung.

Menurut Agung, selama pandemi ini ada perubahan format pemutaran film. “Kemarin (dalam beberapa bulan lalu) itu formatnya online melalui zoom dan juga live via YouTube. Jadi kemarin sudah sembilan seri yang kami lakukan melalui online“. 

“Kali ini kami coba offline di Aceh Utara, karena kami sudah sering mengadakan kegiatan dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat. Hasil koordinasi dengan Dinas Dikbud Aceh Utara, satu kali dilaksanakan di Museum Samudra Pasai, satu lagi di SMP 1 Tanah Luas,” kata Agung.

Agung menjelaskan di Museum Islam Samudra Pasai ada tiga film pendek yang diputar. “Pertama, film Smong, yang bercerita tentang tsunami di Simeulue tahun 1907. Ada tradisi-tradisi terkait tsunami, bagaimana menyelamatkan diri”. 

Kedua, film Kekeberen, tentang tradisi lisan dari masyarakat Gayo, yang mengandung petuah atau pesan-pesan positif bagi anak-anak sebagai generasi muda.

“Terakhir, film Sehelai Kain, tentang tradisi kain tenun di Aceh. Film ini hasil karya anak-anak SMAN 2 Banda Aceh, salah satu pemenang lomba film pendek yang diadakan di BPNB Aceh. Ceritanya nonfiksi, tapi dibumbui budaya dan tradisi Aceh,” tutur Agung.

Jadi, kata Agung, lewat pemutaran film-film itu, BPNB Aceh memperkenalkan kembali tradisi-tradisi yang sudah hampir punah. “Anak-anak zaman sekarang mungkin tidak kenal lagi dengan tradisi itu, sehingga kami mencoba mengangkat kembali,” ucapnya.[](*)