Oleh Taufik sentana

Kita tentu sudah sangat fameliar dengan konsep hemat. Dulu, sikap hemat disandingkan dengan kaya, penuh kecukupan. Namun dalam keseharian kita, agaknya jarang sekali kata “hemat” kita digunakan secara lisan. ini menandakan sikap hemat tersebut pun jauh dari perilaku keseharian. 

Cobalah lihat cara kita berwudhu dengan fasilitas keran di masjid!, berapa banyak air yang terbuang karena keran dibuka lebar. Betapa banyak limbah air wudhu yang terbuang  begitu saja.

Lalu mari kita perhatikan cara kita  makan  saat undangan (apakah ini menandakan sikap kita di   rumah juga?),  kita sering mengambil nasi dan lauk lebih banyak dari yang diperlukan, selebihnya terbuang.

Dan bila kita kaitkan dengan sikap hidup populer masyarakat  secara umum, dari gaya hidup dan trend yang diganderungi, semuanya menampakkan ketidak-hematan, kemubaziran dan boros. Bahkan tidak banyak seruan di mimbar mimbar utama mubaligh perihal ajakan berhemat ini.

Sikap berhemat idealnya tidak sebatas terhadap uang saja. Kita bisa berhemat dalam setiap aspek hidup kita:  waktu, energi, sumber daya alam, keperluan hidup dan sebagainya. Banyaknya pakar ekonomi di negara ini dan dengan adanya pelajaran ekonomi di sekolah (apakah  pelajar jurusan IPA  bisa  mempelajari Ekonomi dalam prog.Lintas Minat?), pelajaran Ekonomi yang diterima  ternyata tidak memberikan kontribisi dalam membangun  kultur masyarakat ekonomis”. Justeru seakan Ekonomi yang kita pelajari hanya sebatas memenuhi kebutuhan. Padahal, dalam konsep Ekonomi ada usaha, produksi, kemandirian, penghematan dan ketepatan penggunaan.

Bisa saja, minimnya sikap hemat di tengah masyarakat kita karena tampilan dari pengelola negara dan sistem bernegara kita tidak menghidupkan secara langsung sikap hemat tadi. Bila negara (unsur sistem dan pejabatnya) bisa berhemat di setiap aspek vital, tentu negara kita akan cukup kuat untuk mandiri dan menghasilkan lebih banyak  produk budaya yang diakui dunia. Konon, penulis pernah dengar, untuk safari/jas peresiden saja bisa menghabiskan anggaran 76 juta/minggu, apatah lagi jenis mata anggaran lainnya, dari biaya telekomunikasi pejabat, tunjangan tertentu dan sebagainya.

Kita berhemat bukan dalam rangka menolak kemapanan tertentu tapi karena sikap hemat tersebut merupakan sifat kemuliaan yang muncul dari kesadaran diri (syukur) akan fungsi hidup  dan masa depan.[]

Taufik Sentana
Bergiat di Bid. Pengembangan SDM