HIJAB merupakan jati diri wanita muslim. Itu mutlak dan tidak dapat ditawar-tawar. Di zaman modern seperti saat ini, mengenakan hijab tidak lantas membuat wanita terlihat kampungan atau norak. Banyak cara untuk terlihat tetap stylish dengan berhijab, salah satunya dengan mengkreasikan hijab. Mengenakan jilbab dengan cara yang itu-itu saja akan terlihat biasa bagi wanita, khususnya remaja.

Nah, gadis cantik ini ingin berbagi kisahnya yang sering didaulat untuk membuat tutorial hijab santai dan formal, tetapi tetap simple dan tidak ribet.

Berawal dari sekadar mengajarkan secara personal ke teman-temannya, ia lalu membuat video tutorial hijab, lantas diunggah ke YouTube dan Instagram.

“Saya mengenal tutorial hijab sejak duduk di bangku SMA. Dulunya saya sering lihat di YouTube tutorial hijab luar negeri yang keren dan selalu mengikuti tren perkembangan zaman. Saya pun terinspirasi untuk membuat kreasi hijab sendiri,” ujar Utari Ridhayanti, 21 tahun, mahasiswi UIN Ar-Raniry Banda Aceh kepada portalsatu.com, Kamis, 16 Maret 2017.

Awalnya, dara manis akrab disapa Tari itu, tidak berpikir untuk membuat tutorial hijab. Ide itu baru muncul setelah banyak permintaan dari teman-teman yang minta diajarkan cara berhijab seperti yang ia kenakan.

“Teman-teman menyarankan agar saya mem-posting tutorial hijab di YouTube dan media sosial lainnya. Hal itu agar mereka bisa berlajar sendiri, jika memang tidak memungkinkan face to face. Alhamdulillah, respons atas video tutorial hijab yang saya posting cukup baik. Saya sendiri sudah tidak menghitung lagi jumlah video yang saya posting,” ucapnya sambil tertawa.

Gadis asal Takengon, Aceh Tengah itu berharap, tutorial hijabnya dapat ikut memotivasi dan memupuk kesadaran wanita muslim untuk berhijab.

“Kita sebagai wanita muslim harus bangga berhijab, tanpa harus minder atau takut dikatakan ‘kudet’ alias kurang up to date. Selain sebagai jati diri (wanita) muslim, hijab juga mencegah hal-hal buruk, seperti pandangan negatif dan lainnya. Intinya, hijab itu memberi rasa aman dan nyaman,” tegas Tari yang kini sedang menyusun tugas akhir (skripsi) untuk meraih gelar sarjana (S1) di Jurusan Bimbingan Konseling Islam itu.

Tak hanya sampai di situ, Tari kini juga menjalankan bisnis handicraft buket bunga dari bahan dasar flanel. Meski masih tergolong pemula, bisnis yang dijalaninya itu cukup mendapat tempat di hati pelanggan, mulai dari mahasiswa, pelajar, hingga kalangan umum.

“Saya memulai bisnis buket bunga ini pada Agustus 2016 lalu. Selain menyasar teman-teman di kalangan mahasiswa, saya juga mempromosikan melalui Instagram. Harganya sesuai pesanan, mulai dari Rp40 ribu hingga Rp200 ribu,” kata Tari.

“Saya memilih bisnis ini karena sejak dulu memang sangat hobi dengan kerajinan tangan. Jadi, mengapa tidak sejalan saja, ini hobi yang menghasilkan. Uang yang saya peroleh dari hasil penjualan itu saya tabung. Alhamdulillah, orang tua selalu mendukung apa pun yang saya lakukan, asalkan positif,” beber Tari yang bercita-cita menjadi konselor profesional.

“Setelah selesai S1 nanti, Insya Allah, saya akan melanjutkan ke jenjang S2 untuk menjadi seorang ahli konseling,” ujar Tari.[] (*sar)