LHOKSEUMAWE – Dosen Ilmu Politik FISIP Unimal, Dr. Muhammad Abubakar, M.A., menilai saat ini semua bakal calon gubernur tampak memaksakan diri dengan cara berebut menjadi pemimpin Aceh. Kondisi ini menunjukkan mereka belum dewasa, padahal semuanya mengklaim ingin berbuat untuk Aceh.

“Mestinya dibuat konvensi calon (gubernur), mereka semua (bakal calon) duduk dan bahas bersama, siapa yang terbaik di antara mereka. Jadi, dibuat semacam The League Leaders (Liga Pemimpin) di Aceh,” ujar Muhammad Abubakar kepada portalsatu.com/ lewat telpon seluler, Rabu, 27 Juli 2016.

Itu sebabnya, kata Muhammad Abubakar, penting saat ini ada tokoh yang mampu menjembatani agar semua bakal calon gubernur dapat duduk semeja dan terbuka hatinya untuk satu tujuan membangun bersama Aceh. Mereka kemudian berdiskusi dengan kepala dingin, membentangkan program masing-masing, dan akhirnya harus terpilih siapa yang terbaik.

“Jadi, mereka sendiri (semua bakal calon) yang memilih siapa yang paling tepat sebagai pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. Kalaupun peraturan pilkada mewajibkan ada dua atau tiga pasangan calon, itu sebagai formalitas saja,” kata Doktor Ilmu Politik lulusan Universiti Islam Antarbangsa Malaysia ini.

Muhammad Abubakar melanjutkan, “Ini starting point bagi Aceh untuk menunjukkan kepada Jakarta bahwa Aceh masih bersatu”.

Akan tetapi, kata Muhammad Abubakar, jika para bakal calon gubernur tidak mau duduk bermusyawarah, tetap meureupah-reupah seperti anak kecil, maka tidak akan ada warna baru bagi Tanoh Nanggroe ini ke depan. “Saat ini semuanya (bakal calon) bicara untuk Aceh, mau berbuat untuk Aceh, lalu kenapa tidak duduk bermusyawarah?” Muhammad Abubakar mempertanyakan.[] (idg)