ALKISAH, ada sepasang pasutri (pasangan suami istri) yang tinggal di perkampungan pedalaman Aceh Utara, Sutrisna dan Rabiah nama mereka. Keduanya warga transmigrasi dari Ppulau Jawa dan baru berdomili 1 tahun. Keduanya hidup penuh rukun dan damai bersama anak tunggal mereka bernama Mega yang baru berusia 5 tahun.
Suatu ketika Rabiah dan Sutrisna bersama anaknya Mega menuju ke pasar untuk berbelanja menjelang kebutuhan sehari-hari ke Keudee Geurugok. Di sana terkenal dengan tradisi hari Selasa sebagai hari besar jual beli dengan berbagai kebutuhan.
Sesampai di Keude Geurugok, Sutrisna berkata kepada istrinya, “Ma, belanja dulu sana, ayah tunggu di sini dengan Mega sambil minum teh dan makan snack,'” kata Sutrisna dengan wajah sedikit lelah karena kelelahan. Rabiah dengan tersenyum berkata
Iya mas, Mama masuk pasar dulu cari bumbu untuk goreng ayam dan bekal lauk lainnya, lantas Rabiah bergerak masuk ke pasar untuk berbelanja dengan langkah sedikit lambat.
Selang beberapa saat Rabiah kembali dengan bawaan belanja yang banyak di tangan kanan dan kirinya. Rabiah duduk dan menatap ke arah suaminya serta anaknya, Rabiah terkejut dan berkata kepada suaminya, Di mana si Mega, Mas? kata si Rabiah kepada suaminya ketika melihat keberadaan si Mega yang tidak lagi berada di kursinya tersebut.
Lantas Sutrisna pun kaget ketika menoleh ke samping melihat si Mega tidak ada lagi, karena kepanikan tadi sehingga Rabiah menjerit di tengah-tengah keramaian denga menyebut Sie Mega tidak ada lagi disertai tangisan yang menggema.
Kebetulan di saat Rabiah menagis, dua orang nenek bernama Minah dan Siyah yang juga sedang berbelanja saling berbicara dengan bahasa Aceh Meugang kon padum uroe teuk, pakon geu peugah le cut po nyan Sie Megang hana le bermakna Meugang –tradisi makan daging menjelang puasa– (kan baru beberapa hari kedepan, kenapa perempuan itu histeris menyebut-nyebut daging megang telah habis), kata nek Minah, sambil keheranan dan geleng-geleng kepala nek Siyah berbisik, Stt, bek ile neu peu rhop haii po, sang si nyak dara nyan tengoh na masalah lain (stt, jangan ngomong dulu kak, sepertinya perempuan ini sedang ada masalah).
Lalu Rabiah lelah dengan tangisannya dan termenung di sudut keude Geuregok bersama suaminya, nek Minah dengan rasa penasaran pun menghampiri Rabiah dan Sutrisna dan berkata berbahasa Indonesia berlogat Aceh Kenapa, Nak, istri kamu kenapa nangis? Tadi nenek dengar-dengar kalu dia sorak mungkin karena daging megang sudah habis, padahal kan baru beberapa hari lagi kita Megang, kata nek Minah dengan rasa penasaran.
Lalu Sutrisna pun menjawab dengan nada emosi, Bukan Sie Meugang, Nek, nama Anak Kami itu Mega, kami bertiga ke pasar, sedang asyik duduk sambil minum dia tiba-tiba menghilang, dan saya pun terkejut ketika istri berkata di mana si Mega, mas? jelas Sutrisna.
Lalu nek Siyah pun dengan malu-malu berkata kepada Sutrisna Maaf, Nak, Nek Minah pendegarannya sedikit bermaslah, jadi mendengar nama Mega teringat Megang, kan ini mau dekat puasa juga, biasa kami nenek-nenek sudah berumur, Kata Nek Siyah, sembari memohon maaf atas sikap Nek Minah.
Setelah Nek Siyah dan Minah pergi lalu, datanglah seorang wanita paruh baya membawa Mega yang telah tersesat di tengah-tengah keramaian. Dengan terharu Sutrisna dan Rabi’ah memeluk Mega dan berterima kasih kepada Perempuan tersebut yang telah menemukan anaknya.[]
Karya: Az-Zuhri (Alumnus Bahasa dan Sastra Arab UIN Ar-Raniry Banda Aceh)




![[CERPEN] Bukti Sayang Bukan Warisan Utang](https://portalsatu.com/wp-content/uploads/2022/09/Ilustrasi-utang-foto-pikiran-rakyat-1.jpg)