SUBULUSSALAM – Mejelis Permusyawaratan Ulama (MPU) bersama Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah (DSIPD) Kota Subulussalam menggelar pertemuan membahas upaya mengatasi penyakit masyarakat (pekat) di Kantor MPU setempat, Kamis, 18 Oktober 2018.

Pertemuan ini menyikapi keresahan masyarakat terkait masuknya  wanita-wanita jahil atau weleh-weleh ke Bumi Sada Kata setelah tempat lokalisasi di Jalan Nasional Subulussalam-Medan tepatnya di Dusun Bulu Didi (Buldid), Desa Tanjung Mulia, Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe, Kabupaten Pak-pak Bharat, Sumatera Utara, dibongkar oleh pemerintah setempat.

Hadir dalam pertemuan ini Ketua MPU Subulussalam, H. Azharuddin Paeteh, Wakil Ketua Ustaz Maksum beserta dua anggota Ustaz Karmila dan Ustaz Rusda. Turut hadir Kepala DSIPD, Ustaz Harmaini, dan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia KNPI Kota Subulussalam, Edi Sahputra.

Azharuddin Paeteh mengatakan, pertemuan ini untuk menyikapi keresahan masyarakat setelah pembongkaran warung remang-remang yang berada di Bulu Didi (Buldid), dikhawatirkan weleh-weleh akan berpindah ke Kota Subulussalam.

Dalam pertemuan itu berkembang isu bahwa sejumlah waleh-weleh saat ini sudah ada di wilayah Subulussalam, mereka menyewa kos-kosan di sejumlah titik, terutama di kawasan pusat kota.

Kepala DSIPD Subulussalam, Ustaz Harmaini, mengatakan pihaknya sudah mengantongi delapan titik terindikasi sebagai “sarang pekat” yang harus dibasmi secara bersama melibatkan semua pihak terkait.

“Titik yang paling rawan di kompleks terminal, kalau siang hari nyaris tidak ada aktivitas di sana, informasi sistemnya  cukup pesan via WhatsApp dan order,” ungkap Harmaini dalam pertemuan tersebut.

Adapun kelanjutan pertemuan ini, pihak MPU akan menjadwalkan rapat dengar pendapat (RDP) dengan pihak eksekutif, legislatif dan penegak hukum serta para pihak terkait dan OKP untuk membahas upaya penanganan pekat secara komprehensif.[]