Isra Miraj merupakan perjalanan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam menembus lapisan langit hingga menerima perintah shalat dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Ini adalah peristiwa yang sangat besar bagi umat Islam. Di dalam Isra Miraj ini ada peran besar buraq yang setia mengantar Rasulullah.

Isra Miraj adalah perjalanan malam. Nabi Muhammad SAW menaiki buraq yang merupakan hewan gaib dan tidak akan dijumpai di alam ini. Buraq bagian dari keistimewaan dan mukjizat Nabi dari Allah SWT yang tentu saja tidak mungkin bisa ditiru orang lain.

Dialah Tuhan yang mengetahui yang gaib, dan Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, maka Sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS Al Jin: 26–27)

Mengingat ini masalah gaib, sikap yang harus dikedepankan adalah mengikuti serta meyakini apa yang disebutkan dalam dalil. Artinya, kaum Muslimin hanya boleh meyakini sesuai informasi yang sahih dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam.

Dikutip dari Konsultasisyariah, Ustaz Ammi Nur Baits ST BA menjelaskan bentuk buraq yakni seperti hewan tunggangan dan ukurannya lebih tinggi dari keledai serta lebih pendek dari bighal. Bighal adalah peranakan hasil perkawinan antara kuda dengan keledai.

Selain itu, berwarna putih dan langkah kakinya sejauh ujung pandangannya. Begitu juga bisa diikat sebagaimana layaknya hewan tunggangan. Di antara hadis yang menceritakan sifat-sifat tersebut:

1. Hadis dari Malik bin Sha’sha’ah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam menceritakan kejadian Isra Miraj. Salah satu cuplikan kisahnya, dalam hadis ini yang artinya:

Dibawakan kepadaku hewan tunggangan berwarna putih, lebih pendek dari bighal dan lebih tinggi dari pada keledai, yaitu buraq.” (HR Bukhari Nomor 3207)

2. Hadis dari Malik, Rasulullah SAW bersabda:

Kemudian dibawakan kepadaku seekor hewan tunggangan putih, namanya buraq. Lebih tinggi daripada keledai dan lebih pendek dari bighal. Satu langkah kakinya di ujung pandangannya. Lalu aku dinaikkan di atasnya.” (HR Ahmad 17835, Muslim 164, dan yang lainnya)

3. Sesampainya di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW mengikat buraqnya di tempat yang biasa digunakan para nabi untuk mengikat tunggangannya. Beliau mengatakan:

Aku mengikat buraq di salah satu pintu Masjid Baitul Maqdis, tepat di mana para nabi mengikatkan hewan tunggangan mereka.” (HR Muslim Nomor 162, Abu Ya’la dalam musnadnya 3375)

Apakah buraq punya sayap?

“Kami tidak menjumpai adanya riwayat yang menjelaskan bahwa buraq bersayap. Sekali lagi, mengingat ini masalah gaib, kita hanya bisa mengikuti apa yang disebutkan dalam dalil, tanpa nambah-nambahi. Membuat ilustrasi seperti kuda terbang sembrani, jelas ini menebak-nebak hal yang gaib, yang dilarang dalam Islam,” papar Ustaz Ammi Nur Baits.

Allahu a’lam bissawab.[]Sumber: okezone.com