Pengantar:
Peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah salah satu peristiwa agung dalam sejarah Islam yang menjadi bukti nyata atas kenabian Muhammad SAW.
Banyak faktor historis yang melatar belakangi peristiwa ini, di antaranya adalah, tahun boikot dan tahun kesedihan Nabi (7-10 tahun kenabian).
peristiwa ini Juga sebagai jawaban atas keterhubungan Nabi dengan Nabi nabi lain yang lahir/berdakwah di kawasan Palestina.
Para ulama sepakat bahwa ini juga bagian dari Cara Allah swt Menghibur Nabi, lalu menerima perintah Shalat lima waktu.
Ulasan:
Perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW ini tidak hanya memiliki makna teologis yang mendalam, tetapi juga membuka cakrawala kosmologi yang menakjubkan.
Dalam forum kecil ini, kita hanya fokus pada pendalaman makna mi’raj. sebagian jumhur sepakat mi’raj dilakukan secara lahir dan batin.
Kosmologi dalam Al-Qur’an:
Al-Qur’an, sebagai kitab suci dan petunjuk sekalian manusia, mengandung banyak ayat yang mengisyaratkan tentang keberadaan alam semesta yang luas dan teratur.
Misal, alam semesta ini mengembang dan bergerak dinamis Disebut dalam Alquran, dan terkonfirmasi dalam penelitian modern.
Tentu saja, konsep kosmologi dalam Al-Qur’an jauh melampaui pemahaman manusia pada zaman itu.
Ayat-ayat Al-Qur’an menggambarkan alam semesta sebagai sebuah sistem yang kompleks dan menakjubkan, yang diciptakan oleh Allah SWT dengan segala kesempurnaan.
Perjalanan Kosmologis:
Peristiwa Mi’raj, yakni perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha, merupakan sebuah perjalanan yang melampaui batas-batas ruang dan waktu yang dapat dibayangkan oleh manusia.
Dalam perjalanan ini, Nabi SAW diperlihatkan berbagai tanda-tanda kebesaran Allah SWT, termasuk keindahan alam semesta yang tak terhingga. Termasuk gambaran surga dan neraka serta gambaran umatnya di masa depan.
Semua tanda dan pengalaman nubuwwah itu hanya bagian kecil dari “linuriyahu min ayatina”: kami tunjukkan sebagian” dari Tanda Kekuasaan Kami (Allah swr).
Artinya, apa yang Nabi alami hanyalah bagian kecil dari Qudratullah yang ditampakkan. Frasa linuriyahu min ayatina tersebut juga disebutkan Alquran terkait peristiwa ashabul kahfi.
Beberapa aspek kosmologis:
Langit “Bertingkat”:
Konsep langit bertingkat dalam Al-Qur’an sejalan dengan perjalanan Mi’raj Nabi SAW. Setiap langit memiliki keistimewaan dan keindahan yang berbeda-beda.
Bintang-bintang dan Galaksi:
Perjalanan Mi’raj juga menggambarkan keindahan bintang-bintang yang menghiasi langit. Dalam Al-Qur’an, bintang-bintang disebutkan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
Sidratul Muntaha:
Titian paling jauh yang dapat dicapai oleh makhluk ciptaan, merupakan simbol” batas pengetahuan manusia tentang alam semesta.
Pertemuan dengan Nabi-Nabi Terdahulu: Peristiwa ini menunjukkan bahwa sejarah manusia adalah satu kesatuan yang terhubung.
Beberapa implikasi reflektif:
Kebesaran Allah SWT:
Mi’raj menunjukkan betapa kecilnya manusia di hadapan kebesaran Allah SWT dan betapa luasnya alam semesta yang diciptakan-Nya.
Pentingnya Ilmu Pengetahuan:
Peristiwa ini mendorong umat Islam untuk terus belajar dan menggali ilmu pengetahuan tentang alam semesta.
Landasan Tauhid:
Pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan nabi-nabi terdahulu menunjukkan bahwa esensi agama adalah satu, yaitu tauhid. Menyembah Allah dan Berserah diri (muslim)
Dalam konteks ilmu pengetahuan modern, peristiwa Mi’raj dapat menjadi inspirasi bagi para ilmuwan untuk terus mengeksplorasi rahasia alam semesta.
Meskipun ilmu pengetahuan telah berkembang pesat, namun masih banyak misteri alam semesta yang belum terpecahkan.
Simpulan:
Peristiwa Mi’raj bukan hanya sebuah kisah keagamaan, tetapi juga mengandung dimensi kosmologi yang sangat dalam.
Dengan memahami peristiwa ini, kita dapat lebih menghargai kebesaran Allah SWT dan semakin termotivasi untuk terus belajar, menggali ilmu sebagai bentuk taqarrub kepadaNya.[]
Taufik Sentana. Praktisi pendidikan Islam. peminat sains dan studi tadabbur Alquran.






