Karya: Taufik Sentana*

Disini, dari tahun ke tahun,
buruh hanya simbol perjalanan keruh
dari kegaduhan  kapital, hajat industri
dan kepentingan kaum Bos.

Kehidupan buruh adalah bagian dari cermin sosial kita yang gagap. Kita pincang dalam keadilan dan pengertian. Mereka seakan pentil dalam sistem roda negara kita.

Ini tidak hanya buruh buruh di pabrik pabrik. Tapi juga buruh buruh tani, bangunan dan pekerja lepas harian lainnya, yang menggantungkan pendapatannya pada tenaga dan waktu mereka.

Bisa saja pemikiran mereka jadi skeptis dan memandang semua di luar mereka adalah borjuistik dan hipokrit. 

Sehingga sangat mungkin dirasuk rasa sosialis semata dan buta dari pendangan yang utuh tentang kearifan dan ketuhanan.

Siapanpun, yang dilemahkan, jangan jadikan setiap saudara kita (seiman, khususnya) merasa ditinggalkan.
“Aku Ada di setiap hati yang terluka”
Sabda Baginda dalam Qudsinya.[]

*Peminat studi sosial.