Catatan Agustus 2018

Karya: Taufik Sentana

Semerbak bunga khatulistiwa
hinggap di hidung hidung pelancong jahil 
yang membelah dada samudera:
membawa peluru dan cerutu
menukar lada dan cengkeh dengan aroma darah
hingga berpuluh generasi terlampaui sudah.
—–mendung menggantung——-

Dari tepi asia, 
pedih siksa tangan tangan  anak matahari
mencabik asa dari esok, 
memburai rinai duka-beku di atas tanah surgawi
———mendung menggantung dari uap darah dan pekik merdeka—– 
ada takbir dan mati suci yang dicari 

Hingga penanda merah putih
yang melambang gagah tegak di cakrawala 
melepas kelam 
melebur penat tubuh 
dengan gandum dan beras harum
sambil mencoba menata warna 
dari warisan zamrud menjadi kemenangan 
yang tidak angkuh.—–bukan kemenangan yang menggelitik dendam busuk.
——-bukan pula kemenangan dari tebing apartemen tinggi dengan lorong sempit di sekitarnya:
dimanakah kibaran bendera itu?
masihkah ia di lubuk jantungmu?[]

Taufik Sentana
Peminat kajian sosial-budaya.
Bergiat di MTs Harapan Bangsa, SMP Islam Terpadu Teuku Umar dan Ikatan Da'i Indonesia. Menetap di Meulaboh.