Dalam bahasa sosial, demontrasi semakna dengan unjuk rasa. Dalam bahasa keterbukaan kata tersebut sama dengan unjuk kebolehan. Seakan disini membolehkan semuanya, walau prinsipnya tetap ada batasan.

Ada yang bilang, demontrasi bagian dari demokrasi, tapi sering kita lihat demontrasi berujung rusuh dan keji.

Hampir semua elemen masyarakat bisa demontrasi, utamanya mahasiswa, komunitas ormas dan yang menyebut diri aktivis.

Demontrasi bisa berlangsung wajar berdasarkan nilai dan motif murni di baliknya. Bisa pula penuh intrik bila banyak kepentingan yang mengusik. 

Yang paling menggelitik adalah adanya frasa  “ditunggangi” yang tak pernah ketahuan siapa “penunggang”nya. Apalagi bila dikaitkan selalu dengan makar, Islam radikal, gelombang baru yang bahkan melibatkan suporter bola (?).

Bila berkaca dari setiap rezim, demontrasi seakan sejalan dengan dinamika pemerintahan di level apapun. Seakan demontrasi telah menjadi bahasa sosial yang paling populer, yang terkadang sangat efektif untuk sekadar “mencuri perhatian” atau membisukan lawan.[]

Taufik Sentana
Peminat Literasi Sosial-Budaya