BANDA ACEH – Mantan Gubernur Aceh Abdullah Puteh, dalam memori sejarah Aceh pada tahun 2002 adalah tercatat sebagai pemimpin Aceh pertama yang mendeklarasikan syariat Islam di Aceh.
“Aceh ini daerah Serambi Mekkah, dahulu pernah diperjuangkan oleh Daud Beureueh Aceh sebagai daerah Islam, tapi itukan belum selesai semua,” katanya saat dikonfirmasi portalsatu.com/, Jumat, 3 Agustus 2018.
“Pada waktu itu sedang konflik. Konflik itu tarik menarik antara kekuatan di atas dengan kekuatan di bawah, kekuatan GAM dengan kekuatan TNI,” kata Abdullah Puteh.
Kepada Presiden Megawati, Abdullah pun menyarankan jika pusat ingin menyelesaikan perkara Aceh maka harus mencari solusi. Kemudiann solusi itupun didapat setelah kembali ke asal masalah. Menanggapi pernyataan yang ditawarkan Abdullah Puteh tersebut, Megawati menanyakan apa saja yang perlu dilakukan pusat. Abdullah Puteh pun menyarankan untuk melaksanakan syariat Islam di Aceh.
“Ya kalau tidak menimbulkan masalah apa-apa ya silakan, coba bicara lebih luas bicarakan dengan pihak para alim ulama,” kata Megawati.
Abdullah Puteh pun megumpulkan tujuh belas ulama termasuk MPU untuk mewujudkan impiannya tersebut.
“Ini semua jika kita sudah kembali ke Alquran kan semua tenang. Dalam Alquran kan tidak boleh saling bunuh membunuh, fitnah memfitnah. Dengan berjalannya syariat Islam orang bisa beribadah dengan taat, sehingga tidak ada keinginan-keinginan yang tidak baik,” kata Abdullah Puteh.
Hasil dari usahanya tersebut kemudian terlaksanalah deklarasi akbar syariat Islam di Blang Padang pada tahun 2002 dengan menghadirkan seluruh komponen masyarakat Aceh. “Hari deklarasi itu semua komunitas hadir, ormas-ormas, dan para ulama,” katanya.
Ditanya apa saja keberhasilan lainnya yang dicapai sewaktu ia menjabat Gubernur Aceh, Abdullah Puteh megataka, selain keberhasilannya memperjuangkan syariat Islam di Aceh, ia juga telah merumuskan freeport Sabang, tapi katanya waktu itu belum terwujud.
“Waktu itu kan sudah banyak mobil-mobil masuk ke Sabang dari Singapura walaupun itu second hand, tapi itu bisa dipakai oleh masyarakat karena murah sekali,” kata Abdullah Puteh.
Abdullah Puteh mengatakan, di antara sekian banyak program membangun Aceh yang dilakukannya, termasuk mewacanakan Jalan Lautan Hindia, Gayo Alas dan Selat Malaka (Ladia Galaska).
“Ladia Galaska adalah jalan dari Lautan Hindia menuju ke pegunungan kemudian turun ke Selat Malaka, dari Meulaboh turun ke Peureulak, dan itu menjadi jalan alternatif ketika tsunami. Dan masih banyak program-program lainnya,” kata Abdullah Puteh.[]






