BANDA ACEH – Muhammad Aidil Fajri berhasil membangun home industry (industri rumah tangga) pembuatan serbuk jahe di Banda Aceh. Produk dibungkus kemasan diberi nama “HALIYA” itu dipasarkan di kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar.

HALIYA ini pertama produksi ketika Penas (Pekan Nasional Petani dan Nelayan) tahun lalu di Aceh,” kata Aidil kepada portalsatu.com/, Kamis, 6 September 2018.

Aidil mengatakan, ide membangun industri rumah tangga itu muncul saat ia melihat produksi haliya (jahe) di Aceh yang melimpah, tapi harga jualnya belum memihak kepada petani. “Lantas timbul ide saya dan dari istri untuk mengolah jahe tersebut menjadi produk jadi yang siap diminum,” ujarnya.

Dalam sebulan, Aidil membutuhkan sekitar 40 kilogram jahe yang dibeli di Pasar Peunayong, Banda Aceh, dan Pasar Lambaro, Aceh Besar.

“Produk HALIYA ini sudah mendapatkan sertifikat 'Halal' dari MPU Aceh, dan Nomor IRT (Produk Industri Rumah Tangga/PIRT) dari Dinas Kesehatan Kota (Banda Aceh),” kata Aidil.

Serbuk jahe itu baru dipasarkan di kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar, belum meluas ke kabupaten/kota lainnya di Aceh lantaran Aidil masih kekurangan mesin/peralatan produksi dan modal. Dia berharap ke depan memperoleh modal usaha dari pemerintah untuk mendongkrak usahanya tersebut.

“Saya berkeinginan usaha ini bergerak dalam skala lebih besar, dan Insya Allah bisa membangun pabrik supaya bisa membuka lapangan kerja yang lebih besar. Biaya yang saya perlukan kira-kira Rp100 juta,” ujar Aidil.

Aidil merupakan alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Selain memproduksi serbuk jahe, Aidil aktif menjadi guru  pelajaran akhlak dan akidah akhlak di Dayah Insan Qur'ani Sibreh, Aceh Besar. Sementara di Dayah Modern Babun Najah Ulee Kareng, dia mengajarkan Tahsin Tahfiz Alquran.[]