KAPTEN LET PANDE
Episode 2 – Cerita Bersambung – Novel Serial
Karya: Thayeb Loh Angen
Kapten Let Pande dan pasukannya menuju perumahan tentara di dekat ujung benteng. Mereka membariskan gerobak di sisi ruangan berisi tumpukan goni beras dan melepaskan kuda-kuda ke padang rumput. Di bagian barat perumahan itu, ada sebuah anjungan dari istana, lebih tepatnya, puri. Sesekali, Sultan Aceh datang ke puri itu untuk melihat tentara berlatih beladiri dan perkelahian bersenjata.
Puluhan ribu senjata cadangan disimpan di ruang bawah tanah bangunan yang berjarak setengah kilometer dari istana tersebut. Selain di sana, sebuah puri dibangun di Indrapatra, sebuah di Indrapurwa, dan sebuah lagi di Indrapuri. Keempat puri itu merupakan gudang senjata dan makanan serta tempat latihan para tentara Aceh, masing-masing dijaga oleh sebuah kompi tentara, dipimpin seorang kapten.
Sementara gudang makanan terbesar dibangun di Krong Raya, dekat puri atau Benteng Indrapatra. Makanan berupa beras dan palawija yang disimpan di sana dikirim dari seluruh kerajaan di Sumatra yang menyatakan sumpah setia kepada Sultan Aceh. Di sanalah pusat gudang makanan para tentara Aceh Darussalam, yang diperbaharui setiap purnama.
“Hari-hari yang kulalui, akankah dipenuhi lagi oleh dentang-denting pukulan besi panas dan aromanya ketika dicelupkan ke dalam air?” Kapten Let Pande bertanya-tanya sendiri.
Beberapa tahun lalu, dia seorang pande—pandai besi–seorang utoh pembuat pedang. Di seberang sudut sebelah barat puri, di ujung rumah tentara, ratusan orang pande berkumpul. Mereka membuat pedang, lembing, baju besi, perisai, dan sepatu kuda. Seorang ahli memimpin pekerjaan itu, Utoh Maddiyah, ayah dari Kapten Let Pande.
Pada suatu pagi, ketika membuat sebuah pedang bersama ayahnya, Kapten Let Pande terjatuh ke dalam kolam air sepuhan besi panas. Dia pun pingsan. Setelah tersadar, pemuda itu menyadari bahwa kulitnya melepuh. Untuk memulihkan diri, dia mengikuti pengobatan suluk peundang—terapi pengobatan ala Aceh—selama dua pekan. Setelahnya, pemuda itu meninggalkan pekerjaan pandai besi dan masuk ke Dayah Askar di Indrapuri, sebuah lembaga pendidikan yang mempunyai mata pelajaran siasah dan ketentaraan. Ayahnya menolak pilihan itu karena dia calon penerusnya, pandai besi terbesar di Kesultanan Aceh Darussalam.




