Kapten Let Pande memeluk tubuh tegapnya. Menerawang. Jika dia diperintahkan membuat senjata kembali, maka pelariannya dari pandai besi ke ahli siasah dan tentara seperti meluruskan ekor monyet. Awalnya lurus, lalu melengkung, ditarik lurus lagi, dilepas melengkung lagi, ditarik lagi lurus lagi, dilepas lagi melengkung lagi.

Kapten Let Pande menuju puri yang terbuat dari batu yang direkatkan semen bagian bawahnya dan kayu bagian atas. Para tentara berlatih pedang dan lembing. Mereka berteriak di antara suara dentingan logam beradu.

Tang ting. Tang ting.

Suara pedang dan lembing saling membentur. Sesekali, para tantara itu berkelahi tanpa senjata, melatih seni beladiri silat.

Dari pintu puri, Syah Bandar muncul bersama dua orang pengawalnya yang memakai pedang kecil panjang.

Kapten Let Pande dan semua yang hadir di puri menghentikan kegiatan dan berdiri menghadap Syah Bandar, penghormatan untuk pemimpin.

“Atas titah Baginda Sultan Aceh, Laksamana memerintahkan, besok usai subuh, kalian mulai berlatih membuat meriam dan mesiu, diajarkan oleh utoh dari Islambul–Istanbul,” kata Syah Bandar.

“Siap, Komandan,” kata Kapten Let Pande, diikuti pasukannya.

Setelah itu, Syah Bandar berbicara beberapa kalimat tidak penting, lalu meninggalkan puri.

“Di mana kita belajar membuat senjata?” Keurani Tapa muncul di belakang Kapten Let Pande.

“Bagaimana jika engkau menggantikanku belajar itu?” Kapten Let Pande melirik Keurani Tapa.

“Maaf, Kapten Let Pande. Semua pasukanmu, termasuk dirimu harus ikut belajar itu,” teriak Adib di sela-sela latihan silatnya dengan lawan tanding dua orang.

“Jika aku diperintahkan membuat senjata, aku bersedia menerima hukuman, setelah itu kembali ke dayah, melanjutkan belajar pada Teungku Chik,” Kapten Let Pande menunjuk dahi Adib.

“Itu hanya alasanmu, Kapten Let Pande. Padahal engkau mau mmembujuk Teungku Chik, supaya menikahkanmu dengan anaknya yang bermata hijau itu,” Adib tertawa ke arah Kapten Let Pande, lupa bahwa dia tengah berlatih-tanding beladiri. Akibatnya, sebuah tendangan mengenai perut pemuda itu. Dia pun tersungkur.[]

… Bersambung ke Episode 3

Baca Episode 1