KAPTEN LET PANDE
Episode 3 – Cerita Bersambung – Novel Serial
Karya: Thayeb Loh Angen
Aroma ikan bakar dari dapur umum mengepul ke ruangan pertemuan puri yang dapat menampung sekira dua ribu orang itu. Di dapur umum, pasukan menyiapkan ikan kerapu untuk makan malam tentara yang bertugas. Pasukan Kapten Let Pande di sana ada seribu orang. Setiap hari, mereka dibagikan ke dalam tiga kelompok tugas secara bergantian. Satu kelompok istirahat di rumah, satu klelompok mengurus perlengkapan, dan satu kelompok lagi menyediakan makanan dan berjaga-jaga.
“Kapten Let Pande. Mengapa kompi kita diminta belajar membuat senjata, tetapi yang lain tidak,” Adib berkata pelan seraya duduk di bangku kayu di samping Kapten Let Pande.
“Kita tinggal di Gampong Pande. Seluruh pandai besi terbaik di negeri ini adalah tetangga kita. Sultan ingin ada sekelompok pandai besi cadangan, dan itu kita. Kelompok pandai besi utama dipimpin ayahku.”
Keurani Tapa muncul, membawa sekeranjang buah langsat yang kerkilauan kuning di bawah cahaya kandil di dinding puri.
“Kapten Let Pande, bukankah kemarin, engkau berkata tidak mau membuat senjata dan ingin ke Indrapuri?” Keurani Tapa menyerahkan keranjang langsat kepada Adib.
Kapten Let Pande tidak bergeming. Dia menghitung-hitung kandil yang menyala di dinding puri, telihat tiga puluh kandil dari tujuh puluh di bagian dalam dan luar puri itu.
“Keurani Tapa. Itu memang lebih baik bagiku, tetapi aku tidak meninggalkan pasukan, semua tugas kita selesaikan bersama.”
Keurani Tapa mengambil satu karang langsat dan selebihnya diserahkan kepada Kapten Let Pande.
“Kapten Let Pande. Bukankah sudah lama bangsa kita mampu membuat senjata bagus. Kita juga dapat membuat kapal-kapal besar yang mampu menyeberangi selat dan samudera, tetapi mengapa Sultan meminta bantuan kepada Khalifah Islam, Sultan Turki Usmaniyah untuk persenjataan?”
Kapten Let Pande mengunyah langsat seraya terus manatap kandil-kandil.
“Keurani Tapa. Persenjataan kita memang cukup untuk melawan pasukan besar sekalipun, itu jika mereka dari kasawan Sumatra dan Asia Tenggara. Namun, sekarang musuh besar kita adalah Portugis. Mereka baru saja memiliki meriam kuat dan canggih. Meriam yang kita miliki tidak mampu melawan mereka lagi. Pasukan Portugis dapat menembakkan kita dari jarak jauh, melobangi kapal kita dari jarak yang meriam kita tidak dapat mejangkaunya. Sementara meriam yang lebih baik daripada punya Portugis hanya dimiliki oleh Sultan Turki. Hanya itu satu-satunya cara kita memenangkan pertempuran di Selat Melaka ini. Turki sendiri adalah negara terbesar di dunia, memimpin tiga benua, mereka itu Islam seperti kita, dan musuh terbesar mereka di laut tengah juga Portugis.”






