“Apakah menurut Kapten, setelah kita berhasil membuat meriam yang kuat, kita mampu menghancurkan Portugis di Melaka?” Adib bertanya pelan, seraya melihat Kapten Let Pande dan Keurani Tapa secara bergantian.

“O, menarik. Aku ingin menyerang ikut menyerang Portugis di Melaka,” kata Keurani Tapa cepat-cepat.

Adib mendekatkan wajahnya ke Keurani Tapa, lalu berkata-kata pelan.

“Kita ini tentara penjaga makanan dan persenjataan, bukan pasukan tempur.”

Mendengar itu, Keurani Tapa menatap tajam Adib.

“Kita tetap tentara, latihan mereka dan kita sama. Aku ingin bertempur.”

Kapten Let Pande melirik Keurani Tapa dan Adib. Kedua tantara itu adalah orang yang senantiasa menemaninya bertugas.

“Kalian dengarkan. Kita ini mengikuti perintah, apa yang diperintahkan, itulah yang kita lakukan. Kita diperintahkan menjaga senjata dan makanan untuk tentara, maka itulah yang kita lakukan. Kita diperintahkan membuat senjata, maka kita buat. Kalau semua tentara ikut bertempur, siapa yang membuat senjata dan siapa yang menyiapkan makanan.”

“Siap, kami salah,” jawab Keurani tapa dan Adib serentak.

Setelah itu, Keurani Tapa menopang dagu.

“Kapten, apakah kita dapat membuat meriam sebesar punya Sultan Mehmet Alfatih?”

“Keurani Tapa. Kita tidak punya musuh yang memiliki benteng kota sekuat Konstantinopel. Jadi, kita tidak perlu membuat meriam sebesar ciptaan Orhan itu,” Kapten Let Pande ikut menopang dagu.

“O, iya, Kapten. Sekiranya engkau belajar kembali di dayah Teungku Chik Indrapuri, apa yang akan engkau pelajari di sana?” Adip ikut menopang dagu.

“Aku ingin memperdalam ilmu sastra dan siasah,” Kapten Let Pande berkata tegas.

Seorang tantara datang di pintu dan mendekati Kapten Let Pande. Dia menyampaikan perintah Syah Bandar supaya besok, Kapten Let Pande mengirim perlengkapan makanan ke pasukan di dua puluh kapal yang menjaga Selat Malaka di lepas pantai Banda Aceh.[]

… Bersambung ke Episode 4
Baca Episode 2