KAPTEN LET PANDE
Episode 5 – Cerita Bersambung – Novel Serial

Karya: Thayeb Loh Angen

Dari atas dinding puri itu telihat pantai Gampong Pande keruh. Air bah dari gunung muntah ke Kuala Aceh, tadi malam. Di kejauhan tampak Pulau Weh berkabut. Puluhan perahu nelayan lalu lalang menjaring ikan.

“Kapten Let Pande. Walaupun kalian sudah selesai membuat meriam sebanyak itu, tetapi kita belum dapat menyerang Portugis. Kapal untuk menaruh meriam, sekira lima bulan lagi baru selesai dibangun. Bagaimana kesiapan tentaramu?”

Kapten Let Pande menatap Syah Bandar sejenak.

“Tuan Syah Bandar. Aku memimpin pasukan kecil yang bertugas di gudang, bukan pasukan tempur, mengapa Tuan menceritakan itu kepadaku?”

“Siapa tahu engkau tertarik bertempur lagi.”

“Tentu saja, jika ada ada kesempatan.”
“Setelah kapal meriam siap, Sultan Aceh ingin mengirim satu juta marinir untuk menghancurkan pasukan Portugis di Malaka.”

“Apakah kapal kita cukup, Tuan Syah Bandar?”
Syah Bandar menggeleng.
“Kapal-kapal yang kita bangun mampu menampung sekira seratus ribu orang tentara.”

“Jadi, kita hanya mengirim seratus ribu orang?”

Syah Bandar mengagguk.

“Tadi malam, aku berbicara dengan Laksamana. Kami ingin engkau memimpin sebuah batalyon. Jika selama ini kamu hanya memimpin dua ratus orang tentara, maka mulai besok, kamu memimpin seribu pasukan. Mereka Angkatan Laut.”

“Bolehkah kubawa Keurani Tapa dan Adib ke pasukan baru itu. Satu lagi, izinkahlah aku belajar pada Teungku Chik di Indrapuri, dua hari dalam sepekan.”

“Laksanakan.”

“Siap, Tuan Syah Bandar,” Kapten Let Pande memberi hormat, lalu berkata-kata lagi.

“Kami akan diberikan berapa kapal?”
“Setiap kapal membawa lima puluh orang pelaut. Kalian seribu orang, punya dua puluh buah kapal. Setiap kapal dilengkapi dua puluh meriam, setiap meriam disediakan seratus butir peluru.”

“Batalyon mana akan dikasih untukku?”
“Batalyon Idrapatra.”
“Bukankah itu tentara yang baru dilatih, anak muda berusia tujuh belas sampai dua puluh tahun?”

“Benar. Kami ingin menyerahkan padamu dan engkau membawa mereka untuk menghajar Portugis di Melaka.”