“Maaf, Tuan Syah Bandar. Mohon jangan bersenda. Yang akan dihadapi oleh tantara kita adalah tentara pengalaman dari Portugis, Eropa Selatan, dan Yang Mulia memintaku mengirim anak pramuka untuk melawan mereka? Itu bunuh diri.”
“Kapten Let Pande. Engkau ini, tentara atau politisi?”
“Aku ini seorang tentara.”
“Tentara menjalankan perintah, bukan menjadi pengamat.”
“Siap, Laksanakan perintah.”
“Tetapi, Tuan. Aku belum bercaya, kapal mahal dan senjata mewah kita dipercayakan pada tentara yang baru latihan?”
“Kapten. Kami tidak mempercayakan armada dan senjata mahal kita kepada mereka, tetapi kepada pemimpinnya. Dari seratus ribu yang akan dikirim itu, lima puluh ribu orang adalah tentara yang baru selesai berlatih, termasuk seribu orang yang akan diserahkan padamu.”
“Mengapa Yang Mulia Sultan Aceh senekat itu?”
“Semenanjung harus direbut kembali, itu tanah Aceh, tanah umat Islam. Apakah engkau rela turunan saudara kita di Melaka menjadi kafir?”
***
Keesokan harinya, Laksamana melantik Kapten Let Pande di Puri Indrapatra. Dia sekarang memimpin batalyon meriam yang bermasrkas di dekat Puri Indra Patra.
Kapten Let Pande berbaur dengan kerumunan tentara baru yang kini menjadi anggotanya. Sejak Kapten Let Pande ikut membuat meriam, sebagian para utoh dari Istanbul membangun ulang Puri Indrapatra dengan bahan temuan terbaru. Selain itu, mereka membangun Puri Indrapuri dengan bahan terbaru, disusul Puri Indrapurwa dan puri Gampong Pande.
Utoh yang ahli tata ruang kota menggali sungai-sungai dari Krueng Aceh ke Mata Ie, Krueng Daroi, yang mengalir di bawah istana baru di Peuniti. Satu sungai lagi digali dari Mata Ie melintasi Lampaseh sampai ke babah Kuala Aceh di Gampong Pande.
Benteng-benteng juga diperkuat dengan semen bahan terbaru yang diramu oleh utoh dari Istanbul bersama utoh Aceh. Kehadiran para utoh utusan Sultan Turki itu telah mengubah wajah kota di Aceh, dari bangunan-bangunan kayu menjadi bangunan berbahan batu, semen, dan pualam.
Karena sudah memimpin sebuah batalyon tantara, pangkat Kapten Let Pande sekarang menjadi Mayor atau Letnan Kolonel, tetapi orang-orang tetap memanggilnya, Kapten. Sebutan itu berawal dari peristiwa tiga tahun lalu, di lepas laut Aceh.[]
… Bersambung ke Episode 6
Baca Episode 4





