Minggu, Juli 21, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...

[Cerita Bersambung] KAPTEN LET PANDE: Episode 6

KAPTEN LET PANDE
Episode 6 – Cerita Bersambung – Novel Serial

Karya: Thayeb Loh Angen

Pada akhir bulan Syaban tahun itu, Kapten Let Pande genap setahun masuk ke pasukan penjaga gudang dan senjata. Pada hari itu, dia ikut rombongan mengantarkan makanan ke pasukan di kapal penjaga Selat Melaka. Awalnya, semua lancar seperti biasa, tetapi begitu mereka memutar haluan ingin kembali ke Kuala Aceh, muncul kapal berbendera Portugis. Ada tiga puluh kapal. Sementara di pihak Aceh, penjaga delapan kapal dan rombongan pengantar barang empat kapal.

Kapal penjaga meminta kapal Portugis memutar halauan dan dilarang melewati perairan Aceh, akan tetapi rombongan tentara dari Eropa Selatan itu tahu bahwa mereka menang jumlah tentara dan kapal saat itu. Mereka pun memaksa lewat, menabrak barisan kapal penjaga Aceh seraya menembakkan meriam. Pasukan Aceh yang terjebak dalam peperangan tidak seimbang itu pun terpaksa membalas tembakan.

Tembak menembak meriam terjadi. Satu kapal besar Portugis yang paling depan memiliki meriam dengan peluru lebih besar dan jarak tembak lebih jauh daripada meriam kapal Aceh. Empat kapal pembawa barang makanan tentara Aceh tenggelam bersama awaknya karena kapal itu. Setelahnya, kapal Portugis merapat ke semua kapal Aceh, ingin merebut semua kapal dan menawan semua tentaranya.

Peperangan dengan pedang dalam kapal Aceh pun terjadi. Sementara Kapten Let Pande yang terlempar ke laut saat tenggelam, berenang ke arah kapal. Dia mengendap-endap naik ke sebuah kapal terdekat yang tengah beradu. Tanpa diketahuinya, itu kapal terbesar dari rombongan Portugis, dipimpin oleh Kapten Lionel Messi dan Muallim Ronaldo. Para awak kapal itu tengah bertanding pedang dengan tentara Aceh di kapal Aceh sehingga di kapal ini tinggal belasan tentara saja, termasuk kapten dan muallim. Sementara kapal Portugis yang di belakang kesulitan merapat karena ombak besar akibat kapal tenggelam.

Begitu menyadari dia telah berada di kapal Portugis, Kapten Let Pande mencabut pedang yang terikat kuat di pinggangnya. Dua belas orang tentara Portugis melompat ke arah Kapten Let Pande. Pertempuran satu lawan selusin orang pun terjadi. Namun, selang beberapa saat, dua belas orang tentara Portugis telah tewas di pedang Kapten Let Pande.

Kapten Lionel Messi dan Muallim Ronaldo muncul dengan mata terbelalak.

“Mengapa? Mengapa pasukan khususku dapat engkau kalahkan dengan mudah? Engkau hanya tentara berpangkat rendah. Sementara di banyak pertempuran, kami sering menang dengan kalian,” Kapten Lionel Messi tertegun. Selaku perwira tentara Portugis, dia mengenal pangkat tentara Aceh dari pakaiannya. Bermusuhan selama ratusan tahun membuat mereka mengenal budaya lawannya.

Baca juga: