Kapten Let Pande membolak-balikkan halaman buku bermuka luar dari kulit kambing di tangannya. Dia membaca sebuah syair di geladak kapal itu seraya menari-nari seorang diri.

Manalah mungkin kutahu samudra
sementara raga di pulau senantiasa
manalah mungkin kutahu cinta
sementara jiwa setengah saja menderma

Manalah mungkin aku sebijak zuhud
sementara ujub masih sahabatku
manalah kutahu cahaya menyala
sementara mata tidak kubuka

Kapten Let Pande menghentikan pembacaannya, begitu Keurani Tapa muncul.
“Engkau menjadi penyair lagi, Kapten Let Pande?”
“Itu hanya syair di dalam buku. Adakah yang engkau ingin sampaikan?” Kapten Let Pande menutup buku.

“Kapan kita berangkat menyerang Portugis di Melaka?”
“Sepekan lagi. Sultan Aceh memimpin sendiri penyerangan itu. Ada lima orang laksamana ikut.”

“Siapa yang menjaga di dalam negeri?”
“Syah Bandar dan dua orang laksamana serta para ulee balang—bangsawan– dan teungku chik—guru besar di lembaga pendidikan. Ada tiga puluh ribu orang tentara angkatan laut dan tujuh puluh ribu tentara angkatan darat menjaga di dalam negeri.”

“Bagaimana peluang kita untuk memenangkan pertempuran kali ini, Kapten Let Pande?”
“Tidak dapat dipastikan. Pertama, lawan adalah salah satu angkatan laut terkuat di dunia. Kedua, pasukan kita setengah berpengalaman, setengah lagi para pemula. Akan tetapi, kita punya beberapa keuntungan, yaitu, kita yang menentukan waktu perang ini, kapal dan senjata kita baru semuanya,” Kapten Let Pande memasukkan buku ke dalam sakunya.

Adib muncul dari lantai bawah kapal.

“Kapten Let Pande, makanan sudah siap,” teriaknya.[]

… Bersambung ke Episode 8
Baca Episode 6