“Siapapun yang ingin membantai musuh, inilah saatnya,” teriak Kapten Let Pande. Dua puluh kapal perang Aceh yang dipimpin Kapten Let Pande mencegat empat puluh kapal Portugis. Mereka pun saling tembak menembak dengan meriam. Meriam Aceh yang memiliki jarak tembak lebih jauh dan berpeluru lebih besar pun menghantam kapal-kapal Portugis secara bertubi-tubi. Dalam beberapa saat, empat puluh kapal perang pasukan terkuat dari Eropa selatan itu pun hancur dan tenggelam.
Siang tiba. Dari benteng A Famosa masih terdengar suara tembakan balasan. Belum ada tanda-tanda Portugis menyerah. Menjelang sore tiba, pasukan Potugis meninggalkan benteng, pasukan Aceh mendarat.
“Kita kalah telak. Mengapa Angkatan Laut Turki Usmaniyah dapat sampai ke Melaka menyerang kita. Apakah mereka mulai melebarkan kekuasaanya ke lintas samudra. Tidak mungkin, itu bukan gaya Turki,” Gubernur Jendral Portugis mengerutkan dahinya seraya menghentikan kuda sejauh dua mil dari Benten A Famosa.
“Tuan Gubernur. Mereka adalah tentara Sultan Aceh Darussalam, bukan Turki Usmaniyah,” perwira ikut berhenti.
“Kapal-kapal itu mengibarkan bendera Turki.”
“Tuan Gubernur. Tahun lalu, Sultan Turki mengizinkan Ankatan Perang Aceh memakai bendera angkatan laut mereka di semua kapal Aceh.”
“Kalau itu Aceh, mengapa mereka punya meriam besar di kapal-kapalnya. Aceh memang kaya, tetapi membeli meriam sebanyak itu dapat menghabiskan dua kapal emas. Itu tidak mungkin.”
“Aceh membuat sendiri meriamnya. Mereka mendatangkan ahli dari Turki.”
“Kurang ajar. Mengapa baru sekarang engkau katakan ini, setelah sepuluh ribu tentara kita tewas dan enam puluh kapal kita tenggelam. Yang paling memalukan, itu hanya dalam setengah hari.”
“Tuan Gubernur. Saya baru tadi mengetahui itu dari seorang tentara Aceh. Dia terjatuh dari kapal yang pecah setelah kita tembak. Tentara itu dibawa oleh tentara kita ke benteng.”
“Di mana dia?”
“Telah syahid, setelah membunuh dua orang tentara kita.”
“Bagaimana mungkin mereka dapat menyembunyikan kabar itu dari kita. Kalau kita tahu mereka mendapatkan dukungan dari Turki, kita sudah meminta bantuan.”
Gubernur Jenderal Portugis menulis surat kepada pimpinannya di Goa, daratan India, meminta bantuan dikirim secepatnya untuk mengusir pasukan Aceh dari Melaka.
“Cepat! Kalau telat, kita akan kehilangan tanah jajahan di semenanjung Asia ini.”[]
… Bersambung ke Episode 10
Baca Episode 8






