Puluhan wanita Gampong Meunasah Alue, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, menanam sayur-mayur di pekarangan rumah masing-masing. Mereka tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) “Cinta”, juga mengembangkan sayur-sayuran dalam lahan di kaki bukit yang dijadikan demonstration plot (demplot), di Lorong Kuburan gampong itu. Belasan jenis sayuran ditanami di demplot tersebut. Dua di antaranya, kangkung dan bayam sudah pernah dipanen. Aneka tanaman lainnya, termasuk pakcoy yang kaya nutrisi menunggu masa panen.
KWT Cinta Meunasah Alue, dibimbing penyuluh dari Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Pangan (DKPPP) Kota Lhokseumawe, mengembangkan sayur-mayur sistem pertanian organik. DKPPP berharap program pekarangan pangan lestari menggunakan APBA tahun 2020 di bawah Dinas Pangan Aceh tersebut semakin berkembang dan menjadi contoh bagi ibu-ibu rumah tangga di gampong lainnya. Selain untuk ketahanan pangan keluarga anggota KWT, sebagian hasil panen kelak bisa dijual sehingga mereka memperoleh pendapatan.

Fatimah dibantu Khatijah tampak menyusun tapeh (sabut kelapa) untuk menyempurnakan bedengan tanaman kangkung di lahan seluas 20 x 20 meter itu. Bedengan berupa susunan tapeh yang sudah dibuat sebelumnya membentuk huruf K-W-T, persis di kaki bukit. Sedangkan susunan bekas botol sirup melingkari bedengan berbentuk simbol hati yang sering digunakan untuk mewakilkan perasaan cinta. Bedengan kangkung dan berbagai sayuran lainnya membentuk “KWT Cinta” dalam area demplot itu dicat merah, biru dan kuning, sehingga terlihat menarik.
Hanya beberapa tapeh sedang disusun Fatimah dan Khatijah yang belum dicat. “Tapeh ini kita kumpulkan dari kebun kelapa di sekitar tempat ini,” ucap Fatimah diamini Khatijah, Jumat, 11 Desember 2020. Dua wanita setengah baya tersebut adalah anggota dan bendahara KWT Cinta.
Anggota KWT Cinta lainnya, Ramlah (70), terlihat mencabut rumput di antara bedengan sayur-sayuran dalam demplot tersebut.
Ada pula Rasulina akrab disapa Buk Lina, anggota KWT Cinta, tampil menjelaskan tentang aneka sayuran di rumah bibit maupun sudah ditanam di dalam bedengan. “Ini bibit pakcoy. Ada bunga kol dan sawi juga. Itu bibit cabai dan tomat,” ucap Buk Lina di rumah bibit dalam kompleks demplot itu.
Sebagian bibit sayuran ditanam dalam polybag sudah dikeluarkan dari rumah bibit. Sayur-mayur lainnya ditanam dalam bedengan, seperti kangkung, bayam, kacang panjang, gambas, bawang, kunyit, jahe, labu air, timun, jagung, dan ubi jalar.
“Semua tanaman di sini pakai pupuk kandang,” ucap wanita 49 tahun itu.
Buk Lina menambahkan, “Yang sudah panen sekali kangkung dan bayam. Sekarang sudah bisa dipanen timun. Pakcoy tidak lama lagi sudah bisa panen juga”.
Melansir wikipedia.org, pakcoy atau bok choy (Brassica rapa Kelompok Chinensis; suku sawi-sawian atau Brassicaceae) merupakan jenis sayuran yang populer. Sayuran ini dikenal pula sebagai sawi sendok. Kadang-kadang juga disebut sawi hijau. Awalnya, sayuran ini sangat populer di kawasan Tiongkok, kemudian menyebar ke berbagai negara, salah satunya Indonesia, sebagai bahan untuk membuat masakan lezat.
Dikutip dari medicalnewstoday.com, pakcoy yang masih satu keluarga dengan brokoli, kubis, dan kembang kol ini diyakini mengandung berbagai nutrisi penting yang baik untuk tubuh. Sehingga pakcoy menempati urutan keenam pada kategori buah-buahan dan sayuran padat gizi berdasarkan Aggregate Nutrient Density Index (ANDI).
***
Ketua KWT Cinta, Salputriani, mengatakan kelompok dia pimpin ini memiliki 30 anggota, sebagian besar ibu rumah tangga di Lorong Kuburan Meunasah Alue. Mereka menggarap lahan dijadikan demplot sejak September 2020. “Sekitar bulan sepuluh (Oktober) kita sudah mulai panen kangkung dan bayam. Kemudian ditanami sayuran lainnya. Semuanya menggunakan pupuk organik, karena ini untuk kita konsumsi sendiri, juga untuk orang lain, jadi harus sayuran yang sehat,” tuturnya.
“Selain di demplot ini, di pekarangan rumah masing-masing anggota KWT juga ditanami sayuran untuk konsumsi keluarga masing-masing. Kalau misalnya ada lebih nanti bisa dijual juga. Seperti hasil panen pertama kangkung dan bayam di demplot ini, 150 ikat, dijual,” ujar Salputriani.
Menurut Salputriani, puluhan wanita itu mau menjadi anggota KWT Cinta mengembangkan sayuran-sayuran lantaran hasilnya dapat membantu ketahanan pangan keluarga. “Ibu-ibu di sini kan tidak ada kegiatan. Saya tanya mau enggak? Mau katanya, biar lebih hemat. Kalau sudah tanam sendiri kan tidak perlu beli lagi sayur-sayuran di pasar. Apalagi nanti kalau sudah panen yang sekarang ini, jika hasilnya banyak, bisa dijual, sudah ada penghasilan juga,” katanya.
Dia menyebut sejauh ini belum ada kendala dalam pengembangan sayur-mayur KWT Cinta, kecuali faktor cuaca. “Karena belakang ini musim hujan,” ucap Salputriani.

Nazariah (36), anggota KWT Cinta itu menanam kangkung, bawang, tomat, timun, dan gambas, di halaman rumahnya, sejak dua bulan lalu. “Bibitnya dari demplot (KWT Cinta) itu,” ujarnya.
Dia sudah memanen kangkung dan bayam. “Selain untuk dimasak di rumah, ada juga yang saya kasih ke tetangga, gratis,” kata Nazariah yang suaminya merupakan pegawai honorer di SMP 7 Lhokseumawe.
Nazariah berkeinginan mengembangkan sayur-sayuran lebih banyak lagi di pekarangan rumahnya maupun dalam lahan demplot bersama KWT Cinta. “Mudah-mudahan bisa kami lanjutkan yang lebih dari inilah. Bisa untuk kebutuhan sehari-hari, kami tidak terjepit lagi, karena sudah ada tanaman ini, enggak usah beli lagi”.
“Kalau hasil panen banyak, kami bisa bantu tetangga juga kan. Bisa dijual ke pasar, untuk biaya jajan anak. Bisa membantu suamilah,” ucap ibu dua anak itu, satu kelas enam SD dan satu TK.
Selain para ibu rumah tangga, ada pula anggota KWT Cinta itu yang masih lajang. Namanya Fitriani. “Saya ikut bergabung karena ingin berbaur dengan ibu-ibu supaya lebih dekat, lebih tahu, karena ini kegiatan baru di sini,” ujar wanita 23 tahun itu.
Sebelumnya, Fitriani tidak pernah bercocok tanam. “Cuman melihat orang lain dan merasa tertarik, sekarang sudah bisa ikut bercocok tanam. Sudah panen kangkung di (pekarangan) rumah juga,” tuturnya.
Fitriani merupakan anggota termuda dalam KWT Cinta. Sedangkan Nek Ramlah yang tadi mencabut rumput di antara bedengan tanaman sayur-sayuran, anggota tertua.
Walau sudah berumur 70 tahun, Nek Ramlah masih merasa kuat bercocok tanam, sehingga bergabung bersama KWT Cinta. “Nyoe cit but lon sabe dari muda kon sampe jinoe (bertani memang pekerjaan saya sejak masih muda),” ucapnya.
Sebelum lahir KWT Cinta, Nek Ramlah sudah terbiasa menanam sayuran di pekarangan rumahnya. Kini nenek memiliki empat anak yang semuanya sudah berkeluarga itu mendapatkan bibit sayuran dari demplot KWT Cinta.
Menurut Nek Ramlah, bercocok tanam itu sangat baik karena sama seperti berolahraga sehingga menyehatkan badan. Mengonsumsi sayuran tanpa kimia seperti dikembangkan KWT Cinta, kata nenek ini, jadi tambah sehat.
“Peng pih hana abeh, hana payah tajak bloe di Pasai Impreh (uang pun tidak habis/bisa berhemat pengeluaran, karena tidak perlu beli sayuran di Pasar Inpres Lhokseumawe),” ujar Nek Ramlah.
Nek Ramlah mengaku sering menyemangati para ibu-ibu anggota KWT Cinta berusia jauh lebih muda darinya agar selalu semangat mengembangkan sayuran lantaran banyak manfaat seperti yang ia rasakan.
Keuchik Meunasah Alue, Mukhtar, mengatakan lahan seluas 20 x 20 meter dijadikan demplot KWT Cinta itu milik dirinya. Dia mengizinkan lahannya digarap untuk pengembangan sayur-mayur lantaran dinilai sangat bermanfaat untuk kebutuhan pangan keluarga para ibu-ibu rumah tangga di Lorong Kuburan Dusun Teumpok Teureundam Gampong Meunasah Alue ini.
“Anggota kelompok wanita ini saya lihat giat bekerja. Alhamdulillah, hasil panen sayuran seperti kangkung dan bayam mencukupi untuk kebutuhan keluarga mereka sehari-hari. Selain di demplot ini, di (pekarangan) rumah-rumah sudah panen juga. Sebagian hasil panen pertama kangkung dijual ke Pasar Inpres oleh anggota KWT,” ujar Keuchik Mukhtar.
Keuchik Mukhtar berharap ke depan pemerintah juga memfasilitasi penanganan pascapanen, termasuk pemasaran, sehingga akan menghasilkan pendapatan bagi KWT Cinta itu. “Maunya seperti itu, jika hasil panen KWT Meunasah Alue ke depan lebih banyak lagi, ada yang nampung,” katanya.
Mukhtar berharap pula pemerintah mengembangkan program ini di dusun-dusun lainnya di Meunasah Alue pada tahun berikutnya.
***

Nella Badriah, AMd., penyuluh dari DKPPP Lhokseumawe, membimbing KWT Cinta sejak pengolahan lahan demplot. “Kemudian mendesain bedengan-bedengan ini, dan mendesain tanaman-tanaman yang akan ditanam di sini. Selain itu, rotasi tanaman di rumah bibit (dalam area demplot). Sebagian bibit itu juga dibagikan kepada anggota KWT, sehingga bisa ditanam di pekarangan rumah masing-masing,” ujarnya.
Dia juga mengarahkan pengurus KWT Cinta menyusun administrasi dengan baik. Seperti buku tamu dan jadwal piket ibu-ibu anggota kelompok. Para anggota KWT itu dibuat jadwal piket atau sistem shift. “Saya usahakan agar semua ibu-ibu mau datang untuk menangani dan memperbaiki demplot ini. Tujuan dibuat shift supaya ada yang membersihkan rumah bibit, dan menyemai bibit. Harus selalu ada bibit yang disemai. Karena setelah panen kan ada yang harus ditanam lagi, seperti kangkung yang cepat panen. Dan setiap hari minimal lima orang untuk menyiram tanaman pagi dan sore,” ujar Nella.
Nella menyarankan anggota KWT Cinta membuat piket bersama hari Minggu untuk gotong royong. “Ibu-ibu semua kumpul di sini kalau yang enggak ada acara. Kita bisa perbaiki demplot secara bersama-sama. Saya juga kalau ada waktu meskipun hari libur tetap datang ke sini,” ucapnya.
Menurut dia, semua sayuran tersebut menggunakan pupuk organik dan tak disemprot dengan racun hama. “Kita berusaha membuat kayak pestisida nabati yang bahan-bahannya dari alam. Pupuknya juga kita pakai yang dari alam, seperti pupuk kandang. Pupuk cairnya juga kita buat sendiri dari organik. Kalaupun dilakukan penyemprotan kita buat sendiri pestisida yang alami. Misalnya daun jeruk dicampur daun sirsak, ada prosesnya nanti. Itu yang kita semprot untuk membasmi hama dan penyakit tanaman,” tutur Nella.
Nella menambahkan, “Saya menyarankan kepada semua anggota KWT, baik di demplot maupun di pekarangan rumah, tidak menggunakan pestisida dan tidak memakai pupuk kimia. Kita menggunakan pupuk alami seperti pupuk kandang dan pupuk organik yang kita buat sendiri di sini”.
“Karena pupuk organik itu kita tahu baik untuk kesehatan, sementara kalau pupuk kimia yang dipakai residunya kan berbahaya bagi kesehatan. Jadi, ini untuk konsumsi ibu-ibu dan keluarganya. Saya berharap ibu-ibu ini mengonsumsi sayuran yang sehat,” ucap Nella.
Menurut Nella, manfaat diperoleh para anggota KWT Cinta dari kegiatan ini, mereka tidak perlu membeli sayuran lagi di pasar. “Seperti kangkung yang cepat panennya, jadi bisa cabut di pekarangan rumah langsung dimasak. Bayam dan bawang merah juga. Saya menyarankan ibu-ibu menanam sendiri di rumah, jadi tidak perlu lagi beli di pasar,” ujarnya.
Nella berharap pemerintah dapat mengembangkan program ini ke desa-desa lainnya. “Karena bantuannya sangat baik untuk ibu-ibu bisa menanam di pekarangan dan demplot, sehingga tidak perlu lagi beli sayuran di pasar untuk kebutuhan sehari-hari. Dan sayur yang ditanam pun bebas dari pestisida,” ucapnya.
“(Harapan) kepada masyarakat, marilah kita menanam sayur-sayuran di pekarangan rumah masing-masing. Tanpa memakai pestisida, tapi menggunakan organik sehingga aman bagi kesehatan untuk dikonsumsi keluarga kita sendiri,” imbuh Nella.
Selain untuk Meunasah Alue, Nella Badriah juga bertugas sebagai penyuluh di sejumlah gampong lainnya di Lhokseumawe, seperti Cot Girek Kandang, Kecamatan Muara Dua, Ujong Blang dan Lancang Garam, Kecamatan Banda Sakti.
Koordinator Program Pekarangan Pangan Lestari di Kota Lhokseumawe, Andria Afrida, S.P., M.Si., mengatakan KWT Cinta itu salah satu Kelompok Wanita Tani yang mendapatkan bantuan dana dari APBA 2020. “Pembinaan untuk Kelompok Wanita Tani, baik di Kecamatan Muara Dua, Muara Satu dan Banda Sakti semuanya berjalan lancar, walaupun anggarannya baru masuk ke rekening KWT pada September dan Oktober 2020,” tuturnya.
Soal kendala di lapangan, Andria mengatakan, “Untuk tahun ini, pengembangan ada empat KWT. Kebetulan (akibat) intensitas curah hujan dua minggu terakhir sangat tinggi, sehingga salah satu KWT di Desa Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, lahan demplotnya itu sempat tergenang. Padahal, sedang bagus-bagusnya juga. Sedang penanaman dan ada juga yang baru disemai”.
Menurut Andria, program ini fokusnya lebih kepada urban framing dengan sistem pertanian organik. “Jadi, diharapkan memang ibu-ibu di sini bisa menanam secara organik, tidak lagi menggunakan pestisida kimia, karena sangat tidak aman untuk konsumsi rumah tangga,” kata Andria yang juga Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe.
Andria mengakui KWT itu berharap kalau hasil panen sayuran nantinya lebih banyak, pemerintah ikut memfasilitasi pemasaran. “Kegiatan itu fokus utamanya memang untuk pemenuhan gizi keluarga atau rumah tangga. Tapi setelah itu, pendapatan keluarga juga bisa digenjot melalui kegiatan ini. Jadi, selain untuk konsumsi sendiri, sayuran itu juga dapat dipasarkan. Maka pada tahun ini ada istilahnya penanganan pascapanen, di situ ada labelling, stiker, terus kemasan harus dibuat semenarik mungkin. Sehingga pasar kita tidak hanya pasar tradisional, kalau bisa tembus ke swalayan”.
“Ini kita sedang upayakan di bulan dua belas ini (Desember 2020), kita harapkan mengenai pengemasan dan pascapanen itu bisa kita laksanakan. Dari program ini istilahnya ada untuk demplot, ada untuk pekarangan, dan ada untuk pengemasan, itu KWT yang melakukannya. Pembinaannya itu dari dinas kita,” ujar Andria.
Saat ini KWT Cinta Meunasah Alue belum panen sayuran dalam jumlah banyak. “KWT di Desa Blang Panyang dan Lhok Mon Puteh, mengembangkan sayur-sayuran juga, sudah panen dan sudah dikemas. Untuk pemasarannya, KWT itu sendiri dibantu penyuluh pertanian kita,” tambah dia.
Dia berharap KWT-KWT itu bisa terus berkembang, sesuai dengan program pekarangan pangan lestari. “Jadi, tidak hanya di tahun mendapatkan anggarannya saja, tapi juga tahun-tahun selanjutnya, walaupun tanpa anggaran harusnya bisa terus lestari,” ucap Andria.
Tahun 2021, KWT Cinta itu tetap akan didampingi penyuluh? “Iya, mengenai pedanaannya memang di tahun pertama ini, tahun 2020, mereka mendapat dana Rp60 juta per Kelompok Wanita Tani, belum dipotong pajak. Kemudian tahun 2021 kalau seandainya kelompok ini berkembang maka akan dibantu lagi dana tambahan. Seperti KWT lanjutan tahun lalu (2019) yang kegiatannya bagus itu mendapatkan dana tambahan Rp20 juta per kelompok,” ujarnya.
“Ada empat KWT di Lhokseumawe yang sudah ditambah (dana masing-masing Rp20 juta) untuk tahun ini. Yaitu KWT Milenial Bangka di Desa Meunasah Masjid, KWT Meunasah Dayah, KWT Bungong Seulanga Cot Trieng, dan KWT Bungong Paya di Paya Bili,” ungkap Andria Afrida.
Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Pangan (DKPPP) Kota Lhokseumawe, Mohammad Rizal, S.Sos., M.Si., menyebut KWT Cinta di Meunasah Alue dengan pendampingan penyuluh saat ini sangat aktif melakukan pengelolaan lahan pekarangan dan demplot. Apalagi di tengah pandemi ini, kata Rizal, dengan program pengembangan sayuran yang dilakukan ibu-ibu rumah tangga itu dapat membantu ketahanan pangan bagi keluarga mereka masing-masing.
“Kita harapkan ini menjadi contoh bagi ibu-ibu rumah tangga di desa lain untuk mengembangkan lahan pekarangan rumahnya,” ujar Rizal.
Menurut Rizal, peran DKPPP terhadap KWT itu memberikan bimbingan dan arahan agar bantuan pemerintah digunakan secara maksimal. “Dan memacu juga swadaya dari masyarakat sendiri, ada yang tidak ditanggung pemerintah, rumah tangga itu secara sukarela melakukan budidaya sendiri,” imbuhnya.
“Memang ditargetkan pemerintah (provinsi) minimal bertahan tiga tahun (kegiatan yang dijalankan KWT). Tapi di Lhokseumawe kita targetkan bertahan sekitar lima tahun. Ini kita harapkan makin berkembang. Bukan hanya untuk ketahanan keluarga tapi menjadi pendapatan lain bagi masyarakat ketika produk-produk (sayuran) yang dihasilkan itu dikemas sebaik mungkin kemasannya”.
“Karena pengembangan tanaman ini menggunakan organik. Alhamdulillah, kita beralih dari kimia ke organik semua. Kita harapkan nanti masyarakat bisa mendapatkan produk-produk organik dari KWT-KWT yang ada di Kota Lhokseumawe,” tutur Rizal.
Menurut Rizal, selain di Meunasah Alue, kegiatan dijalankan di Gampong Meunasah Mesjid dan Paya Bili hasilnya juga bagus. “Alhamdulillah, perkembangannya bagus. Cuma kesulitan kita mempertahankan yang sudah bagus ini. Karena ini kan prosesnya lama, bisa jadi ibu-ibu kadang-kadang bosan atau punya kegiatan lain sehingga kegiatan yang bermanfaat ini ditinggalkan”.
Soal pemasaran jika ke depan hasil panen sayuran produk KWT itu lebih banyak sehingga dapat membantu perekonoian masyarakat, Rizal mengatakan, “Memang pemasaran menjadi kunci untuk memotivasi semangat para keluarga (KWT). Penyuluh juga membantu memasarkan. Misalnya, KWT ini panen bayam, kita tawarkan ke perkantoran perkantoran yang ada sehingga produk yang dihasilkan petani itu cepat terjual”.
***

Siapa yang memberi nama “Cinta” untuk KWT Meunasah Alue? “Awak kamoe (ibu-ibu rumah tangga),” ucap Salputriani.
“Idenya (nama KWT Cinta) dari Pak Keuchik. Karena kami kan para wanita, jadi penuh dengan cinta,” kata ketua Kelompok Wanita Tani itu disambut tawa ibu-ibu lainnya.
Ibu-ibu itu pun semakin “cinta” dengan sayur-mayur, salah satunya pakcoy. Mereka kini juga mengumpulkan berbagai barang bekas. Selain tapeh, bekas botol sirup dimanfaatkan untuk membuat bedengan. Sepatu bekas dan bekas kemasan refill minyak goreng bisa dibuat semacam polybag. “Pokoknya, apa saja yang bisa dimanfaatkan untuk media tanam, digunakan anggota KWT Cinta”.[](red)







