Senin, Juli 22, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaCerita Mahinur Ozdemir,...

Cerita Mahinur Ozdemir, Muslimah yang Jadi Politisi di Eropa

BERLIN — Mahinur Ozdemir (36), muslimah Belgia yang juga seorang politisi, berbagi cerita tentang kesulitan dalam pekerjaan, pendidikan hingga politik yang dialaminya.

”Menjadi muslim di Eropa itu sulit, tapi menjadi seorang muslimah dalam penampilan lebih sulit,” kata Ozdemir dalam sebuah diskusi di Yayasan Pemikir Turki untuk Penelitian Politik, Ekonomi dan Sosial (SETA) di Berlin, Jerman, seperti dilansir dari Anadolu Agency, pada Sabtu (16/2/2019).

Tak hanya itu, menurut Ozdemir, seorang muslim yang mengenakan busana muslim di Eropa itu kerap menjadi sorotan tajam utamanya dari media.

”Anda tak punya hak untuk menjawab dan anda bisa masuk daftar hitam,” katanya.

Kendati demikian, Ozdemir mengungkapkan, dirinya tertarik untuk membantu Belgia melalui politik. DIa juga mengaku sangat senang menjadi Muslim di Eropa.

Sebelumnya, Ozdemir mencatat sejarah sebagai anggota parlemen Belgia dan di Eropa yang pertama kali mengenakan hijab. Pada 2015, Ozdemir pernah didepak dari Partai Humanis Democratic Center (CDH) lantaran menolak mengakui genosida Armenia.

Seperti diketahui, Turki menolak tuduhan genosida Armenia dengan mengatakan kematian orang Armenia di Anatolia timur pada 1915 terjadi ketika beberapa pihak memihak Rusia dan memberontak melawan pasukan Ottoman. Pemindahan warga Armenia selanjutnya menghasilkan banyak korban.

Sementara politisi Turki-Jerman, Bulent Guven, juga pernah menghadapi hal yang sama seperti Ozdemir. Guven dikeluarkan dari anggota partai Sosial Demokrat Jerman ketika didapati istrinya mengenakan hijab.

Menurutnya, Islamphobia di Eropa bangkit seiring banyaknya muslim yang datang ke benua Biru sejak 1960-an.

”Eropa punya Islamfobia,” kata Guven, ”Islamophobia mencapai puncak baru pada tahun 2015 ketika banyak warga Suriah dan Afghanistan bermigrasi ke Eropa.”

Muslim Suriah telah datang ke Eropa terutama sejak 2011 ketika perang saudara Suriah pecah. []SUMBER:ANADOULU AGENCY/Islampos

Baca juga: