LHOKSUKON – “Boh putek, boh putek….” Suara itu terdengar saat motor butut penjual pepaya keliling alias mugee melintas di Lhoksukon, Aceh Utara. Kaum ibu dan anak-anak pun langsung berhamburan mencari arah suara itu.

“Kami sudah langganan sama boh putek (pepaya) madu ini. Selain manis, harganya jauh lebih murah dari yang dijual di pasar. Seluruh anggota keluarga kami suka makan pepaya, karena baik untuk pencernaan,” kata salah seorang ibu rumah tangga di Gampong Meunasah Pante, Kecamatan Lhoksukon kepada portalsatu.com, Jumat, 16 Desember 2016.

Ibrahim, 45 tahun, mugee boh peutek asal Pantonlabu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara menyebutkan, ia menjadi pedagang pepaya keliling sejak belasan tahun silam. Dari hasil menjual pepaya, ia mampu menyekolahkan anak-anaknya.

“Saya memiliki empat anak, yang sulung sudah kuliah. Alhamdulillah, dari menjual pepaya, saya bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga dan membiayai pendidikan anak,” ujar Ibrahim.

Ibrahim mengambil pepaya itu di Gampong Pante Meureubo, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur. Menurutnya, hampir semua warga di sana menanam pepaya di halaman rumah dan kebun mereka. Bahkan, kata dia, ada warga yang sudah pergi ke Mekkah dari hasil kebun pepaya.

“Dulu saya ambil Rp1.000 per kilogram, sekarang naik menjadi Rp1.500. Saya jual per buah Rp5.000, tapi jika ambil tiga, saya diskon menjadi Rp10.000. Dalam sehari saya mendapat laba bersih Rp100 ribu, itu sudah potong uang bensin Rp20.000, dan rokok Rp10.000. Saya berangkat berdagang dengan dua keranjang pepaya penuh. Alhamdulillah, pulangnya selalu kosong. Jika pun ada sisa hanya satu dua saja,” katanya.

Saat bulan maulid seperti ini, kata Ibrahim, pepaya madu sangat diminati masyarakat. “Saya jualan keliling Aceh Utara ke kampung-kampung hingga ke Simpang Mulieng, Kecamatan Syamtalira Aron (Aceh Utara),” pungkas Ibrahim.

(Baca juga: Jangan Malu Jadi Petani)[]