BANDA ACEH – Petani di Gampong Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar, tetap memproduksi garam di tengah pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Para petani yakin Covid-19 ini akan segera berakhir dan mereka dapat meningkatkan kembali produksi garam.
Seperti hari-hari biasanya, Muslim Yusuf, petani garam di Kajhu mengumpulkan garam yang telah dijemur dengan sebatang kayu yang siap untuk direbus. Dia tetap memproduksi garam meski jumlahnya lebih minim dibandingkan sebelum pandemi Covid-19.
“Selama virus corona ini produksi kita menurun dari biasanya. Sangat menurun drastis. Omzet juga berkurang hingga 50 persen,” kata Muslim Yusuf saat ditemui portalsatu.com/ di lokasi produksi garam di Kajhu, Sabtu, 2 Mei 2020.
Muslim mengatakan, sebelum wabah Covid-19 menyebar ke Aceh, omzet usahanya itu menanjak tinggi. “Omzet dan produksi meningkat sampai 100 persen,” ujarnya.
Dia menuturkan, biasanya harga garam berkualitas bagus (KW 1) dijual dari tempat produksi sekitar Rp7 ribu/kg, sedangkan kualitas nomor dua Rp5 ribu. Garam kualitas bagus dijual di pasaran Rp10 ribu.
“Tidak ada kenaikan harga garam, malah turun. Biasanya harga dari pabrik, garam kualitas bagus itu harganya Rp8 ribu, sekarang turun Rp7 ribu,” jelas Muslim.

Di lahan seluas 1.500 meter, Muslim memperkerjakan dua orang. Pabrik garam milik keluarganya itu satu-satunya pabrik garam yang tetap eksis di kawasan Kajhu. Ia mengatakan, sebelumnya ada beberapa pabrik garam, namun akhirnya gulung tikar.
“Di sini hanya dua orang pekerja. Sebelumnya di sini ada beberapa pabrik garam. Cuma di tempat kita ini yang masih bertahan hingga sekarang dan inipun usaha milik keluarga,” ungkap Muslim.
Muslim menjelaskan, ada dua metode dalam memanen garam di tempatnya. Pertama, ada garam jemur dan garam rebus. Garam jemur panennya 10 hari sekali. Sedangkan garam rebus, panennya setiap hari, kecuali hari Jumat.
Muslim berharap pemerintah memberikan perhatian kepada petani garam dalam masa tanggap Covid-19. Pasalnya, omzet petani garam merosot dari sebelum Covid-19. Meski demikian, ia tetap memproduksi garam karena permintaan pasar meningkat.
“Mudah-mudahan setelah virus corona ini, omzet dan produksi garam stabil kembali,” pungkas Muslim.[]




