WAJAH Dahniar mulai berkeriput. Kulitnya hitam pekat karena saban hari bekerja di bawah terik matahari. Berjalan membungkuk, peluh mengalir membasahi pakaiannya yang lusuh. Langkah perempuan ini pun kerap tergontai-gontai.

Dahniar, 60 tahun, ialah salah satu dari sekitar 100 penduduk, penambang (pengumpul) pasir dan kerikil di pinggir pantai Kampung Baru, Samadua, Aceh Selatan. Para penduduk Gampong Baru, Gampong Gadang dan Gampong Ladang itu tampaknya memiliki jiwa yang sabar dan tegar menapaki kehidupan.

Mereka—mayoritas pria dan wanitia—sudah berusia senja atau nyak-nyak, mengais rezeki di bibir pantai lautan Hindia agar asap dapur rumahnya tetap mengepul. Berbekal bakul dan lori, mereka menguras tenaga untuk mendapat sesuap nasi. Kadang kala tidak menghiraukan batas usia sudah melebihi setengah abad. Kondisinya harus bergerak cepat, gigih, mengandalkan otot, dan tenaga.

Bagi mereka, berlumuran pasir dan basah kuyup diterpa air laut sudah biasa saat mengumpulkan kerikil dan pasir. “Sejak tahun 1982 atau 34 tahun lamanya saya melakukan pekerjaan ini. Tahun berganti zaman, namun belum ada perhatian pemerintah untuk menyalurkan bantuan. Lori yang kami gunakan ini dibeli dari uang pinjaman desa yang harus dibayar secara cicilan,” ungkap Dahniar, Rabu, 26 Oktober 2016.

Sejatinya Dahniar dan perempuan lain sebayanya tidak lagi “banting tulang” dengan pekerjaan seberat itu. Tetapi demi memenuhi kebetuhan hidup keluarga sehari-hari, ia terpaksa menjalaninya. Sebagai kepala keluarga sejak suaminya meninggal dunia beberapa tahun silam, Dahniar harus berjuang keras demi menutupi kebutuhan hidup bersama dua anaknya.

“Faktor beban hidup pula yang mengakibatkan kedua anak saya putus sekolah hingga berumah tangga. Ya, kalau dibilang mengeluh sudah pasti. Yang penting halal, walaupun dapat sedikit, yang penting tetap berkah dan bahagia. Faktor usia membuat saya tidak mampu mendapat banyak penghasilan. Lebih baik seperti ini daripada menyusahkan orang lain. Allah itu Maha Pengasih dan Penyanyang,” ujarnya.

Dahniar menyebut rata-rata warga yang menggais rezeki dari butiran pasir dan kerikil itu berusia dewasa, janda, dan duda, orang-orang susah. Pekerjaan ini dilakukan sebab tidak ada lapangan kerja lain yang sesuai usia mereka.

Warga lainnya, Khairunas, 48 tahun, mengatakan, setiap penjualan pasir dan kerikil per mobil atau sebanyak satu meter kubik harus membayar retribusi Rp5.000. Menurutnya, retribusi itu sesuai kesepakatan hasil musyawarah dan dipungut panitia untuk disetor ke beberapa pos.

“Harga jual pasir Rp40 ribu per meter kubik atau satu mobil pick-up kecil. Kalau kerikil, harganya menurut jenis. Kerikil kecil-kecil (kepala pasir) Rp85.000 per meter kubik, kerikil kasar Rp60.000 per meter kubik. Satuan harga ini masing-masing ditambah biaya retribusi untuk menunjang PAD Rp5.000. Artinya, hasil cucuran keringat kami turut menyumbang PAD,” tutur Khairunas.

Ditanya berapa pendapatan rata-rata perhari, Khairunas tersenyum dan menghela napas. “Tergantung, jika materialnya mudah dikumpulkan dan banyak dihempas gelombang, rezeki akan mudah diperoleh. Dalam satu hari bisa dapat dua kubik”.

“Tetapi jika materialnya kurang, tentunya jadi rebutan dan harus berjuang keras. Paling dapat satu hari setengah meter kubik, bahkan tidak ada sama sekali,” ujar Khairunas.

Khairunas memperkirakan, saat butiran pasir dan kerikil sedang tersedia banyak di pinggir pantai, tiga kelompok pengumpul (Gampong Baru, Gadang dan Ladang) bisa menghasilkan di atas 50 meter kubik kerikil dan pasir per harinya. Sehingga, perharinya bisa menyumbang Rp250.000 retribusi untuk PAD.

Kendala dihadapi, pembayaran pembelian material bangunan ini sering tidak lancar, sebab tak jarang ada konsumen tertentu yang berutang hingga berbulan-bulan. Itu sebabnya, hidup mereka pun sering terpaksa berutang dan membayar utang alias “gali lobang tutup lobang”.

“Jika terjadi seperti itu maka sama dengan sudah jatuh ketimpa tangga lagi,” kata Kharunas.

Pengurus pengumpul pasir dan kerikil Gampong Baru yang juga Kepala Dusun Suka Maju, Mushasil membenarkan hasil jerih payah penambang turut menyumbang retribusi untuk mendongkrak PAD Rp5.000 per meter kubik. Dana yang dikumpulkan sebagian besar atau lebih kurang 50 persen disetor ke Kantor Camat Samadua sebagai PAD. Sisanya disumbang untuk gampong dan insentif pengurus.

“Kalau tidak salah, penjualan bulan ini mencapai 100 meter kubik. Jumlah pengumpul pasir dan kerikil yang terdiri tiga kelompok  lebih kurang 100 orang. Setahu saya, sejauh ini memang belum ada perhatian pemerintah untuk membantu perekonomian para penambang pasir tersebut yang berasal dari keluarga miskin tersebut,” kata Mushasil.

Mushahil berharap kepedulian pemerintah, setidaknya bisa mengalokasikan bantuan lori untuk kelancaran penduduk pengumpul pasir dan batu kerikil itu[]

Laporan Hendrik