Kamis, Juli 25, 2024

Cari HP di Bawah...

Mencari HP dengan harga terjangkau namun tetap memiliki performa yang handal memang bisa...

Siswa Diduga Keracunan Selepas...

SIGLI - Jumlah siswa yang dirawat akibat dugaan keracunan setelah konsumsi nasi gurih...

Spanduk Dukungan Bustami Maju...

LHOKSEUMAWE - Sejumlah spanduk berisi dukungan kepada Bustami Hamzah untuk mencalonkan diri sebagai...

Yayasan Geutanyoe Rayakan Hari...

LHOKSEUMAWE - Yayasan Geutanyoe merayakan Hari Anak Nasional tahun 2024 bersama 227 anak...
BerandaNewsCerita Penjual Bakso...

Cerita Penjual Bakso Bakar Agar Rakyat Aceh Tak Berharap Raskin

Anda pasti tidak asing dengan makanan seperti terlihat pada gambar di atas. Bentuknya bulat-bulat dan ditusuk lidi. Sebagian orang menyajikannya dengan kuah sedikit campuran mi. Makanan itu namanya bakso. Penyajian dengan tusuk lidi sebelumnya telah dibakar. Biasanya disebut bakso bakar. Dalam satu lidi terdapat empat butir bakso. Harganya dijual Rp1.000/tusuk.

Itulah pekerjaan Mutia, seorang ibu rumah tangga di Desa Boom, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah. Ia memiliki tiga anak. Suaminya bekerja di bengkel. Keduanya bahu membahu memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan penghasilan dua arah (bengkel dan jual bakso bakar).

Mutia memilih Simpang Kodim untuk menjajakan dagangannya. Maklum, di sana lokasi strategis. Selain tempat keramaian, kawasan itu juga berdekatan dengan MTsN dan Taman Kanak-kanak (TK). Pukul 09:00 WIB, Mutia mulai jualan. Ia gulung lapak jelang magrib. Hitungan kerja sekitar sembilan jam, Mutia berhasil raup Rp500 ribu/hari.

“Sekarang, alhamdulillah, habis 1.000 tusuk berarti Rp1 juta jadi duit. Potong modal Rp500, setengahnya lagi untung kita, lumanyan. Syukurlah,” ujar Mutia dalam perbincangan dengan portalsatu.com, Sabtu, 9 Januari 2016, di sela-sela ia melayani pembeli.

Mutia mengaku telah menjalani pekerjaan itu sejak setahun lalu. Awalnya, kata dia, hanya iseng-iseng berjualan bakso bakar. Namun seiring waktu, peminat hasil olahan tangannya itu semakin melambung hingga ia berhasil menjual bakso bakar 1.000 tusuk/hari.

Kepada masyarakat Aceh, Mutia berpesan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat meski terlihat kecil. Dengan modal utama menjauhkan sifat malas, ia yakin semua rakyat Aceh akan hidup sejahtera tanpa harus berharap beras untuk warga miskin (raskin) dari pemerintah.

“Ayo bergerak. Buang sifat malas. Lakukan saja sesuatu yang bermanfaat, minimal untuk diri pribadi, langkah ini bisa membuka pintu kesejahteraan bagi kita” kata Mutia.

Perempuan ini juga meminta agar pemerintah di Aceh lebih mendorong prinsip berwirausaha terhadap masyarakat. Dimulai dengan pelatihan yang memadai, ia optimis ke depan angka kemiskinan di Aceh akan menurun.

“Masyarakat jangan kasih dulu uang, kasih mereka skill (keterampilan), baru kemudian kasih modal. Saya optimis kemiskinan yang konon katanya Aceh ini 'parah' bisa hilang” kata Mutia tanpa dusta.[] (idg)

Baca juga: