ACEH UTARA – Korban banjir bandang di Gampong Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, menunut pemerintah merealisasikan janji pembangunan rumah untuk masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana.
Rahmi duduk di muka rumah tetangganya bersama ibu-ibu dan anak-anak di bibir sungai Geudumbak, Ahad, 21 Desember 2025. Kayu gelondongan yang diseret banjir bandang pada akhir November lalu masih menumpuk di sisi rumah itu.
Dia menatap ke arah wartawan, lalu berteriak, “pemerintah jangan hanya janji-janji saja untuk pembangunan rumah warga”.
Saat itu sejumlah wartawan baru saja mewawancarai Bendahara Geudumbak, Ilyas, tentang banyak rumah hilang dan rusak parah akibat banjir bandang.
“Kami tidak butuh janji-janji pemerintah. Kebutuhan mendesak sekarang ini tempat tinggal yang pasti, karena kami tidak punya rumah lagi. Kasihan anak-anak kami mengalami sakit gatal-gatal dan demam,” kata Rahmi kepada wartawan.
Rahmi melanjutkan, “Kami juga bersabar. Tapi, kalau misalnya sampai bertahun-tahun menjadi pengungsi, itukan berat sekali rasanya”.
Masyarakat Geudumbak mengungsi sejak 26 November 2025, setelah menyelamatkan diri dengan menyebar ke beberapa lokasi ketika banjir bandang menerjang desa itu. Ada yang naik ke atas meunasah (surau), kata Rahmi, ada pula mencari dataran tinggi.
Banjir mencapai lantai dua meunasah Geudumbak. “Di lantai dua airnya selutut orang dewasa, tapi masyarakat tetap bertahan hingga kondisi air surut,” ungkap Rahmi.
Rahmi kini juga mengungsi di meunasah tersebut. Kebutuhan di pengungsian saat ini, kata dia, air bersih, kelambu, kain, tikar, perlengkapan salat, dan makanan sehat.
Ibu tiga anak itu menceritakan, tatkala banjir mulai merendam pekarangan rumah-rumah warga pada 25 November, dia bersama anak-anak dan tetangganya langsung mencari bukit untuk menyelamatkan diri.
“Ada juga sebagian masyarakat yang terjebak karena air semakin tinggi, sehingga tidak sempat lari. Terjebaknya bermacam-macam: ada yang di atas pohon, meunasah, bukit, selama dua hari-dua malam tidak mendapat makanan sama sekali,” ungkap Rahmi.
Rahmi sendiri tidak tahu bagaimana kondisi rumahnya setelah mengungsi ke bukit. Pulang saat banjir surut, dia melihat rumahnya sudah hilang.
“Setelah dua hari itu airnya sudah surut, kami berusaha mencari makanan. Kebetulan saya mendapat beras yang sudah terendam banjir, beras itulah kami ambil rendam (cuci) kembali untuk memasak nasi bersama warga lainnya dan bertahan sampai tiga hari,” ujar Rahmi.
Pada hari-hari berikunya, kata dia, pengungsi baru mendapatkan bantuan swadaya masyarakat yang disalurkan ke Geudumbak.
“Jujur, sampai sekarang kami masih ketakutan dan trauma dengan peristiwa itu. Setiap turun hujan, kami timbul rasa takut, khawatir seperti kejadian kemarin (banjir bandang),” ucap Rahmi.
Rahmi mengaku ikhlas kehilangan rumah dan bersabar. “Penuh harapan agar pemerintah betul-betul membangun rumah kepada semua korban banjir yang kehilangan tempat tinggal, atau yang rumahnya rusak,” ujarnya.
Pendataan Rumah Hilang dan Rusak
Pemerintah Aceh Utara menyatakan sedang mendata rumah warga yang hilang dan rusak akibat banjir bandang dan longsor di Aceh Utara.
“Hasil rapat dengan unsur Forkopimda dan sudah kita lakukan mapping, para camat akan mendata secara akurat rumah masyarakat yang hilang, rusak maupun tanahnya,” kata Plt. Sekda Aceh Utara, Jamaluddin, kepada wartawan, Jumat, 19 Desember 2025.
“Nanti kebijakannya dari pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang sudah disampaikan kepada kami bahwa rumah yang rusak ringan itu akan dibantu biaya Rp15 juta, rumah rehab sedang Rp30 juta, rumah rehab berat Rp60 juta,” ujar Jamaluddin.
Jamaluddin menyebut bagi masyarakat yang rumahnya hilang diterjang banjir akan dicarikan lokasi lain untuk dibangun semacam klaster pengungsian.
“Jika ada warga yang tidak mau menempati klaster tersebut, juga akan diberikan kompensasi dalam bentuk uang tunai bervariasi, Rp15 juta, Rp30 juta, dan Rp60 juta dari BNPB,” ucapnya. []








