Hujan pernah menjadi cerita penciptaan yang paling indah. Saat seluruh bumi diselimut asam dan suhu tak stabil,  jauh sebelum ada Bapak manusia pertama.

Lalu hujanpun turun terus menerus agar iklim bumi kondusif dan memungkinkan tumbuhnya lumut, benih serta tetumbuhan lainnya, lalu muncul ekosistem awal.

Hingga ke Bapak manusia kedua, Nuh, 
hujan pernah turun untuk menenggelamkan, kecuali Yang Ia Rahmati. Bahkan kini, cerita hujan terus berganti dengan rahasiaNya sendiri.

Cerita hujan bagai cerita yang akan abadi, dalam siklus pencarian dan penemuan kembali. Dari sekadar uap dan awan menggumpal
lalu membentuk takdir baru sesuai
KehendakNya.[]

Taufik Sentana
Peminat sastra sufistik.