Senin, Juli 22, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaNews Aku Diguna-guna

[CERPEN] Aku Diguna-guna

Oleh: Syukri Isa Bluka Teubai

“Hei iblis-iblis yang menyerupai manusia, kenapa menzdhalimi Aku yang bukan siapa-siapa!” Pekik Raja dalam kebingungan oleh sabab keanehan yang tengah ia rasakan di tubuhnya itu.

Adalah Raja namanya, ia satu-satunya pekerja di kedai Tuan Zul. Kedai yang terletak di persimpangan kampung Belukar, di persimpangan itu turut berjejeran beberapa kedai lain. Baik kedai kopi, kedai sayur-mayur, dan sebagainya.

Hilir iringan, baik yang berjalan kaki maupun berkendaraan baik motor ataupun mobil setiap menit lewat di hadapan kedai-kedai tersebut. Raja penjual sekaligus ia tinggal di grosir Tuan Zulkifli tersebut. Setiap hari melayani para pembeli yang lalu lalang membeli kebutuhan untuk diri dan rumah tangga mereka.

Siapa sahaja yang lewat ataupun yang membeli di kedai itu pasti akan dicandainya, akan tetapi tergantung raut di wajah pembeli itu. Berbicara gagab bukan dibuat-buat olehnya, tetapi begitulah adanya. Ceplas-ceplos mulut yang bergigi agak mancung tersebut, ditambah dengan gaya rambut mohaknya. Sangat cukup bagi para tetamu kedai sebagai penghibur laksanya.

Hari Selasa di awal tahun 2016, setelah ia membuka kedai dan sudah menyiapkan segala sesuatu untuk menerima tamu/pembeli di kedai pada hari itu. Ia merasakan keanehan yang belum pernah sekalipun dirasakan dalam hidupnya. Baru ini, kali pertama baginya merasakan keanehan yang sedemikian rupa.

Pukul delapan pagi Bang Dun sudah berada di kedai bersama anak lelakinya. Ayah si Syahri tersebut melihat keanehan akan raut wajah pekerja jujurnya. Tuan Zul tiada begitu peduli awalnya, namun setelah beberapa menit ia juga mulai merasakan keanehan. Lalu sebelum ia sempat bertanya akan si Raja. 

“Bang Dun, Saya sakit.” Pekerja itu memulai percakapan.

“Kenapa, sudah ke rumah sakit?”

Tuan Zulkifli, sering dipanggil olehnya dengan sebutan Dun, kerana pengaruh daerah. Dan bang/abang itu, adalah panggilan untuk mereka yang tua dari umur si pemanggil tersebut. 

“Jadi kamu istirahat sahaja dulu untuk beberapa hari.”

“Ia, terimakasih abang”

“Pukul berapa tidur semalam?”

“Jangan suka sekali bergadang, bergadang itu penyakit untuk kesehatan. Tiada akan cukup bagi kita untuk tidur seminggu di pagi hari, walau hanya semalam sahaja bergadang di malamnya.”
“Seperti biasa, pukul 12:00 Wib.”

“Jadi, kenapa juga wajah kamu pucat sekali?”

“Itulah Bang saya tiada mengerti.”

Dan pada akhir dari percakapan-percakapan antara mereka berdua, Raja berkata pada ayah si Syahri tersebut.

“Bang, saya diguna-guna!”

“Kan abang tahu sendiri bagaimana orang-orang di kampung ini, jikalau sahaja ada yang sudah mapan, hidup senang, cantik/ganteng sedikit sahaja. Setelah itu pasti ada-ada sahaja yang akan terjadi pada dirinya. Apalagi kedai abang sangat banyak pengunjung dan saya pekerjanya,” Raja terdiam.

Bang Zul tersebut tiada berucap sepatah katapun, dan ia langsung pergi mengantar anak lelaki pertamanya itu ke Taman Kanak-Kanak (TK) di ujung kampung Belukar tersebut.

Namun, dari nama kampung sahaja memang sudah mengerikan, Belukar Lebat.
Sebelum ada yang menempati daerah pesisir itu, dulu hanya ada pohon-pohon besar dipenuhi belantara dan bukan sekali dua kali semak-semak lebat itu dibersihkan. Akan tetapi tiada terkira lagi.

Tapi belukar-belukar itu terus tumbuh, dalam waktu sebulan sahaja sudah menjadi hutan belantara lagi. Oleh kerana itulah kampung itu dinamakan dengan kampung Belukar Lebat. Walau sekarang ini hutan-hutan tersebut tiada akan pernah dijumpai lagi di kampung itu. 

Pukul 11 siang, tuan Zul kembali ke kedainya dan di tangan kanan ada sesuatu, kemudian barang yang ada di tangan kanannya itu diserahkan untuk Raja. Cermin. Iya cermin persegi panjang, benda yang dibawa pulang dan dikasih untuk si Raja olehnya itu.

“Raja, tolong cermin itu digantung di dekat meja kasir. Agar kamu bisa sering-sering berkaca darinya.”

“Mantra ini mantra itu, saya diguna-gunalah, alahai Raja,” Tuannya itu berkata-kata demikian, setelah si Raja pergi untuk menggantung cermin di dekat meja kasir tersebut.

“Bang, sudah saya gantung cermin itu.”

“Berkaca sudah?”

“Belum, Bang.”

“Kembali ke tempat cermin itu, dan berdirilah di hadapannya lima menit.”

Setelah perintah itu dilaksanakan oleh pekerja sekaligus penghibur itu, Tuan Zul memberi ia uang, kunci motor. Dan dipanggilnya si Ali yang dari tadi belum berhenti-berhenti dari ketawanya oleh sabab toke itu mencandai si Raja dengan membelikan cermin khusus untuknya tersebut.

Tuan itu menyuruh Ali untuk mengantari si Raja ke rumah sakit, ditakutkan terjadi apa-apa nanti jikalau Raja pergi sendiri oleh kerana ia kurang sehat.

“Bukan tiada percaya pada sihir, kerana di dalam Al-Qur’an sahaja ada ayat-ayat yang menceritakan tentang sihir. Tapi Allah itu ada, Dia Yang Maha Kuasa, bersering-seringlah membaca dan menghafal ayat-ayat khusus yang ada di dalam Al-Qur’an dan meminta kepada Allah,” Tuan Zul bercakap-cakap dengan beberapa orang yang lagi rehat di atas pondok yang sengaja dibuatnya itu untuk mereka (pelanggan) leluasa beristirahat dan berbincang di sana. 

“Jangan sedikit kurang sehat, sudah terus beranggapan macam-macam. Shalat jangan pernah tinggalkan, membaca ayat-ayat Alquran di dalam rumah usai dari mendirikan shalat, insyaallah hidup selalu dalam lindungan-Nya,” Tuan Zul pun terus bercakap-cakap dengan tetamunya itu, dan ia yang menjaga kedai kerana si Raja sudah diantar ke rumah sakit untuk mengecek akan kesehatannya.

Hari Selasa di awal tahun baru Masehi itupun berlalu dengan sedikit banyaknya canda-canda dari si Raja dan Tuan Zulkifli, sekilas tentang kampung Belukar Lebat tersebut.

“Allah Maha Segala-galanya, tiada yang lain,” Tuan Zul mengingatkan lagi akan si Raja yang baru sahaja pulang dari rumah sakit. Sebelum masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, lelaki yang baru pulang dari rumah sakit itu sempat juga berkata kepada tokenya itu. 
“Besok, Abang beli cermin yang lebih besar dari yang sudah abang beli hari ini.”[]

 

*Syukri Isa Bluka Teubai, bernama lengkap M. Syukri. Lahir di gampong Bluka Teubai, Kec, Dewantara, Kab, Aceh Utara. Pada tanggal 24 April 1990, merupakan anak ke-tiga dari lima bersaudara. Setelah lulus dari Misbahul Ulum pada tahun 2009, melanjutkan studinya di kampus Al-Washliyah cabang Cunda, di tahun 2010 pindah ke kampus Stain Malikussaleh Lhokseumawe. Dan di tahun 2011 pindah lagi ke UIN Ar-Raniry, sampai sekarang masih tercatat sebagai Mahasiswa Bahasa Arab UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Alumnus Sekolah Hamzah Fansuri angkatan ke-dua 2015.

Baca juga: