“AIR laut naik.. air laut naik… Lari…” Teriakan itu mengejutkanku. Aku membatin, “bagaimana mungkin air laut naik? Ah, mungkin laut sedang pasang.”
Namun ketidakmungkinan itu terbantahkan. Aku kaget ketika banyak orang berlarian. Ada yang berdarah, ada yang menangis histeris. Mereka kembali berteriak. “Air laut naik, lariii!”
Aku tersentak. Kakiku lemas tidak bisa bergerak. Baru saja gempa hebat mengguncang daerah kami. “Mungkinkah air laut naik?”
Aku terpaku di lapangan kecil di depan rumah kami. Langit saat itu seperti mendung. Burung-burung berterbangan dari arah barat menuju timur. Pagi yang diawali hentakan bumi itu seperti bermuram durja, hingga akhirnya di kejauhan terlihat serupa bangunan bergerak ke arah saya. “Apa itu?”
“Lari nak, lari… Ke masjid cepat,” teriak wawak (kakak ibu) yang bergegas menyelamatkan diri.
“Duaarrrr….” Bunyi menggelegar terdengar hingga tiga kali.
Aku melihat bangunan yang bergerak di kaki langit itu kian mendekat, dengan dinding hitam pekat berada di bawahnya. Ada logo petir di sisi bangunan yang memiliki cerobong asap di atasnya itu.
Aku masih terkesima, menduga-duga benda apa itu. Hingga akhirnya, sang ibu histeris mengajak kakek untuk beranjak dari tempatku berdiri. “Lon han ku plung, jika memang air laut naik, saya bisa berenang,” kata kakek, yang dulunya sempat aktif di tentara masa kemerdekaan itu.
Aku terkejut. Benar, air laut naik. Aku sadar dan menarik lengan pria uzur itu untuk bergegas menuju masjid. Sementara sanak saudaraku sudah terlebih dahulu lari kesana.
Aku, ibu, dan kakek akhirnya berlari-lari sebelum riak air hitam pekat selutut, yang mengalir deras dari sela-sela rumah penduduk mencengkeram kaki kami. Tidak jauh. Kami hanya mampu menghindar dari air berlumpur itu sejauh 200 meter. Aku terjatuh, begitu pula ibu. Sementara kakek terseret arus ke dalam salah satu rumah warga.
Ibu masih memegang tanganku. Dia menangis sembari menyelamatkan diri. Tangannya yang halus itu tak mau melepaskanku yang sudah terseret lumpur di jalan kampung kami. Hingga akhirnya ibu ikut terjatuh. Kami berpegangan tangan ketika air berlumpur menyeret kami hingga 300 meter.
Pegangan ibu terlepas ketika debit air berlumpur kian bertambah. Aku terhempas ke sebuah mobil minibus yang masih terparkir di jalanan kampung kami. Mobil itu akhirnya menjadi rakit untukku keluar dari air. Namun, derasnya air membuat mobil itu ikut terseret arus.
“Ibu, dimana kamu?” Teriakku mencari sosok wanita yang melahirkanku itu.
Mobil yang menjadi rakit bagiku terus bergerak mengikuti arus air. Mobil itu baru terhenti, ketika arus mengantar kami ke dalam salah satu rumah warga. Aku terjebak di antara engine hood mobil dengan atap rumah warga itu.
***
“HEI, jangan ingat-ingat lagi. Ikhlaskan saja. Sudah 13 tahun berlalu, kamu masih ingat dengan kejadian itu?” Tanya Muhammad, rekan tempatku bekerja.
Aku menghela nafas panjang. Muhammad seperti mengerti dengan lamunanku. “Sulit untuk melupakan kejadian itu, meskipun aku sudah mengikhlaskan kepergian ibu,” kataku sembari menyenderkan badan di kursi.
Muhammad menyebutkan musibah tsunami tidak hanya menimpa diriku saja. Ratusan ribu penduduk di Aceh mengalami kejadian itu. “Sama seperti kamu. Semua merasakannya, ada yang kehilangan keluarga, ada yang tidak, tetapi kita harus melanjutkan hidup. Aku yakin, mendiang ibumu juga berharap seperti itu,” kata Muhammad.
“Ya, kamu benar. Hidup harus tetap berlanjut, tetapi sejarah bencana itu harus tetap diingat. Ini akan menjadi catatan bagi generasi masa depan bahwa gempa kuat berdampak tsunami,” kataku kepada Muhammad.
“Sebaiknya kamu menuliskan catatan tentang bencana itu agar bisa dibaca oleh generasi masa depan, Boy,” kata Muhammad.
Aku tersenyum. Apa yang disarankan oleh Muhammad memang harus dilakukan. Apalagi, berdasarkan riset peneliti diketahui tsunami juga pernah melanda Aceh berabad-abad lalu.
“Jangan lupa, cantumkan beberapa gejala atau pertanda gempa berpotensi tsunami. Seperti air laut surut pertanda tsunami, selain itu gempa terjadi di kedalaman laut bukan gempa darat juga berpotensi tsunami,” saran Muhammad. “Selain itu, kamu riset saja sendiri,” kata Muhammad lagi.
“Kenapa bukan kamu yang membuat artikel itu?” Tanyaku.
“Beda versi kawan. Aku nanti mencatat sejarah konflik di tempat kita. Aku kan alumni konflik, kalau kamu alumni tsunami. Kita sama-sama korban di Aceh, tetapi beda ceritanya,” kata Muhammad, mematikan laptop dan beranjak pergi meninggalkanku di ruang kerja.[]







