Oleh Muhrain
Memandang jam dan ban, aku mengiris sedih. Jam mati dan mengapung di samping ban. Bilangan waktu telah tiada berdetak, berdetik di sana. Bau bangkai, kira-kira mirip bangkai kotoran anjing. Di dalam air yang keruh bekas banjir itu, aku lihat debu di dipan telah menjadi senyawa lumpur. Perhatian pun lalu beralih ke bawah meja, sikap ingin tahu ada apa di sana kian kentara. Lembar-lembar buku di samping kolam ruang baca telah menjadi sarang huruf kumal. Beberapa judul terlihat kemayu terkelupas, air melumat nama pengarangnya. Ketika benda-benda yang rapuh hendak diletakkan sempurna dalam lemari kaca, akhirnya tetap saja ada saja cara kesementaraan menjadi sifat yang dianggap mengancam.
Karya-karya tulis itu tak dapat berbuat apa-apa dikecam cuaca berkecamuk awal tahun ini. Koran dan beberapa pena terlihat saling menyumbangkan warna. Bisa dibawa pikiran seolah menjadi pelangi, hitam yang menyelimuti keseluruhan bidang halaman-halaman koran itu telah mengancam warna lain yang lekas pudar. Kuning bekas logo sebuah partai tua yang kian renta menyuplai bau busuk ke permukaan kertas. Kuning yang kian menjadi coklat tua akibat berbaur lumpur dan tanah. Merah yang berbaur dengan warna biru, warna hijau dan warna lain manapun telah kalah oleh hitam. Tanganku lalu meraih kursi dan kakiku menaiki bahu penyangganya, dengan menyandar di lemari penuh rak buku tersebut, lantas mataku mencari tumpukan cerpen yang selalu gagal kukirimkan ke koran kota. Kira-kira apa kabar mereka?
Karena terlalu jauh dari jangkauan pandangan, lalu tangan kanan menjadi mata, meraba jarak dengan tepian ujung lemari. Dengan sedikit berjingkat mengandalkan tenaga jempol kaki, akhirnya tangan yang menggantikan mata itu dapat melihat melalu rabaannya setumpukan kertas yang dalam ingatanku adalah cerpen-cerpen lama tak pernah tersentuh lagi. Sambil meraihnya, lalu mata yang sebenarnya mengawasi sekeliling, melihat apa saja lagi benda-benda yang mungkin masih selamat untuk menjadi kenangan. Paling tidak, akan kembali mengisi lemari itu lagi ketika banjir telah surut dan semua telah sedia kala bersih.
Sewaktu menuruni bangku, mataku kembali menghadapi jam dan ban yang mengapung di sisi lemari, sebuah kolam kecil telah dipenuhi air banjir. Lumpurnya menguning, menimbun lengkung. Bunga palsu di sisi kanan dan kiri telah tinggal daunan palsu belaka, kelopaknya entah ke mana? Sedangkan vas yang tersemen sebadan dengan kolam kecil tersebut terlihat baik-baik saja tanpa cela. Bahan pecahan keramik masih menyiratkan kilauan ketika sorotan lampu senter di tangan kiri memicu pantulan ke mata. Jam tadi akhirnya kugeser dari dalam air. Tiba-tiba secara perlahan namun pasti, jam dinding itu remuk dan kacanya mengenai jarum yang telah menegang mati. Meski tak sampai mengenai tangan, rasa berdesir darahku tak dapat disela, membayangkan yang tidak-tidak terhadap nasib jemari.
Meski dalam gelap, masih saja mata ini mencoba perkasa mencari sisa-sisa benda di ruang belakang rumah tersebut. Listrik hampir tiga hari mati, padahal hampir dapat dipastikan bahwa semua benda-benda berharga di wilayah lokasi banjir belum semuanya terselamatkan. Pemerintah menyalahkan cuaca, cuaca menyalahkan apa saja dan aku menyalahkan diriku sendiri yang terlalu percaya kabar cuaca dari televisi swasta. Meski sempat tersela pikiran mencari siapa yang salah, mataku tetap berputar-putar mencari apa saja lagi benda yang masih layak pakai di rumah.
Kali ini mata dan tanganku lebih berminat memindahkan ban yang bersisian dengan jam. Perlahan dengan sedikit tenaga, ban itu aku pindahkan. Melalui lengkungan dalamnya, sebuah benda, atau sesuatu yang kiranya hidup, atau entah apa, tak yakin benar, seakan melompat lembut menyembunyi di balik goyangnya air keruh tak terang dibaca sorot lampu. Tangan kiriku secara reflek mencoba meraih benda itu, lalu dengan perasaan setengah yakin, mencoba menajamkan intuisi, kembali kepada mengingat benda-benda serupa bahan yang mirip, kenyal, bulat dan bertekstur menyerupai benda tadi aku lalu dengan terburu-buru memutuskan bahwa sesuatu yang melompat dari dalam lengkung ban tadi adalah ikan, karena licin, maka dalam gelap bawah air genangan banjir itu terasalah sulit menggenggamnya, sepertinya jenis ikan yang telah terbiasa di dalam lumpur.
Ingatan lalu meluncur kepada sebulan lalu, pernah sekali waktu aku membeli benih ikan lele dan dua ekor ikan sapu-sapu, apakah mungkin benda yang menyerupai ikan tadi memanglah ikan, kepastiannya semakin meragukan. Pola tubuhnya yang memanjang dan berat di dalam air sedemikian mirip, aku semakin ragu dan semakin tak ragu pula. Beberapa kali tangan kiriku mencoba mencapai sela sisi kolam tempat bertumpuknya beberapa benda lain akibat terbawa arus banjir di dalam rumah. Lekuk semakin dalam, di hati dan pikiranku berkecamuk jangan-jangan benarlah dia itu ikan, lalu dengan berandai tangan menjadi mata dan tanpa memakai indera lain, dengan penuh nafsu mencapai kepala benda bulat memanjang tersebut. Mungkin ikan itu mabuk, lemas mempertahankan hidup, sehingga sekonyong-konyong menjadilah ia bagai badan tanpa nyawa, tenggelam dan mengapung seadanya.
Apa yang engkau cari di situ? Sebuah suara keluar dari balik pintu ruang belakang. Oh, anu, ini mencari ikan di kolam kita? Jawabku sekenanya.
Mana ada ikan dalam banjir begini? Ucap suara itu sambil berlalu meninggalkan ujung suaranya sendiri.
Ini pasti ikan, tidak mungkin tahi! Jawabku setengah berteriak memberi tahu si suara tadi.
Itu tahi! Katanya lagi sambil berlari di dalam air, ingin membantu menerangi dengan senternya yang dia ambil dari ruang depan.
Tidak, ini ikan! Kataku lagi.
Jangan terlalu yakin. Suara itu menasihati sambil berbisik di telinga, sebab ia telah sambil berjingkat mendekati.
Nah, ini sudah dapat kugenggam, ucapku setengah riang penasaran.
Tunjukkan! Perintah suara tadi.
Ini! Setengah gemas menggenggam sang ikan, namun tanganku berkata, ikan itu telah lembek dan mati.
Nah, khan TAHI! Teriak suara di hadapanku. Seperti kenyataan yang selalu sulit aku terima.
Tetapi banyak manusia sepertiku lebih menerima mimpi.
*Muhrain adalah penyair Kota Puisi, Aktivis Sastra dan Pengajar Bahasa Indonesia.

