Minggu, Juli 14, 2024

Tanggapan Ketua DPRK Aceh...

ACEH UTARA - Mendagri Tito Karnavian memperpanjang masa jabatan Pj. Bupati Aceh Utara...

Selamat! 2 Siswa Kota...

SUBULUSSALAM - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Balai Pengembangan Talenta...

Besok, Mahyuzar akan Terima...

ACEH UTARA - Dr. Mahyuzar, M.Si., akan menerima Surat Keputusan (SK) Mendagri tentang...

Jabatan Pj Bupati Aceh...

ACEH UTARA - Masa jabatan Penjabat Bupati Aceh Utara, Dr. Mahyuzar, genap satu...
BerandaNews: Nafas Pengungsi

[CERPEN]: Nafas Pengungsi

Oleh: Dr. Anton Widyanto, M.Ag, Ed.S

Hari-hari yang kami lewati bersama telah berlalu seperti layar hitam kemudian sirna bagai awan-awan. Tak ada yang tersisa bagi kami kecuali memori-memori kelabu yang cukup menyedihkan. Kedua mata yang dulunya kami pergunakan untuk melihat indahnya kreasi Dzat Sang Maha Pencipta, kini tidak mampu lagi melihat apa pun melainkan prahara yang mengamuk bengis dan penuh amarah. Telinga yang dulunya biasa kami pergunakan untuk mendengar dendang merdu ombak, kini hanya dapat kami pakai untuk menyimak dengan seksama tiupan amarahnya badai serta kemurkaan lautan yang menghantam karang-karang cadas.

Jiwa kami yang dulunya gembira memperhatikan semaraknya senyuman alam semesta, kini hanya bisa merasakan pedihnya kemiskinan, perkelahian, kegagalan, prahara, dendam dan kematian-kematian. Pagi, dhuha, siang dan malam,  bagi kami terasa  begitu panjang mencengkeram dan terasa semakin tidak akrab menyambut untaian senyum kami yang mulai terkikis.

Kalau boleh jujur, sebenarnya semakin lama kami semakin muak dan sebal dengan cengkeraman tangan sang nasib yang tidak kunjung baik menyapa. Herannya kedua rasa tersebut terasa semakin menggumpal dan mengerak karena kami merasa seolah-olah tak punya kekuatan untuk mengubahnya. Barangkali memang kami diciptakan hanya untuk disengsarakan. Ah.. Entahlah. Tak ubahnya kami ini seperti sobekan kertas tak terpakai yang diremas-remas sampai lumat, lalu dicampakkan ke dalam tong sampah, sang terminal terakhir peristirahatan kaum usang, busuk, bau, karatan dan remuk menjadi satu. 

#

Orang-orang lain selain kami sebagai komunitas penderita, nampaknya hanya terlihat sebagai komentator-komentator ulung yang cuma pandai membolak-balik kata, sehingga seringkali terbalik-balik sebab memang fakta yang kami rasakan rupanya berbicara lain. Atau setidaknya yang masih terlihat lumayan, ada juga di antara mereka yang masih peduli dengan mensedekahi kami beberapa kardus mie instan, setumpuk baju-baju bekas, atau hanya cukup dengan titikan gerimis air mata.

Sekali lagi sebagai kaum penderita, sesungguhnya kejengkelan kami yang semakin membuncah dan mengkristal itu bermuara pada rasa asyiknya mereka-mereka yang bergumul dengan argumen yang senantiasa sama setiap hari, baik di koran, televisi, tabloid atau majalah. Ditambah lagi dengan asyiknya mereka-mereka yang disebut sebagai pemimpin bangsa, para wakil rakyat dsb dengan urusan perut mereka sendiri, keluarga mereka sendiri atau kerabat mereka pribadi, walaupun dalam kenyataannya –seperti yang terpampang di berita-berita TV- mereka tidak pernah lupa mengatasnamakan rakyat dan konstitusi. Mereka tidak mengerti atau memang tidak mau memahami bahwa adanya mereka di atas kursi empuk sekarang adalah karena adanya kami. Buah dari suara yang kami sumbangkan. Mereka tidak tahu, atau memang mungkin sengaja menutup mata rapat-rapat bahwa kami sebenarnya sudah berada dalam titik nadir kejemuan melihat akrobat-akrobat politik yang mereka lakukan dengan gencarnya, hampir tidak pernah berhenti. Mereka tidak mendengar atau memang dengan sepenuh hati menyumpal telinga mereka sehingga jeritan-jeritan kami yang sudah mulai serak ini tidak lagi dianggap perlu untuk diperdengarkan.

Bohong besar, kalau mereka mengatakan atas nama kami bahwa kami semakin mempercayai mereka. Sungguh suatu kedustaan yang nyata bila mereka memproklamirkan bahwa kami sudah terentaskan dari tangan nasib buruk yang mencengkeram erat diri kami selama ini. Sebab tanpa diberi tahu pun kami yakin, haqqul yakin, bahwa mata Dzat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu mempersaksikan bahwa sayap-sayap kami serasa sudah remuk dan hampir patah oleh deraan kengerian, ketakutan, kebengisan dan ketidakpastian yang seringkali datang tanpa diharap.

#

Kelihatannya bumi tempat kami dilahirkan, tumbuh dan berkembang  mulai dihinggap rasa sumpek yang tak tertahankan. Lihatlah bagaimana kawanan burung mulai gelisah, pohon-pohon terlihat resah, bahkan udarapun seakan tidak lagi menyelimuti kami dengan hawa sejuknya. Kami menyadari sepenuhnya bahwa orang-orang lain mungkin sudah terlalu bosan mendengar penderitaan serta kepedihan yang kami rasakan. Bahkan mungkin berita-berita tentang kesedihan kamipun mulai tidak laku dijual oleh pemilik koran, majalah atau tabloid. Namun tidakkah mereka memahami dengan nurani terdalam mereka bahwa semua ini memang telah menjadi bagian akrab nasib kami? Tidakkah mereka mengetahui bahwa kamipun sebenarnya ingin hidup dalam kedamaian yang mereka rasakan, paling tidak untuk  dapat  melihat anak-anak kami sekolah, lulus, lalu mendapat pekerjaan?  Tidakkah mereka mengerti bahwa ini adalah bagian dari rahasia skenario-Nya yang tidak satu pun “binatang melata” di muka bumi ini dapat meramalkannya? Dan bagaimanakah seandainya nasib yang kami alami ini dirasakan  sendiri oleh mereka. Tidakkah mereka akan bersikap sama seperti kami?

#

“Mak, kita mau ke mana ?” Suara si kecil Laila, anak pertamaku yang baru berusia 6 tahun mengejarku. Aku tak menjawab dengan kata-kata, sebab tanganku sibuk membungkusi pakaian yang akan kubawa pergi. “Mak, tahun depan Laila boleh sekolah kan?” Lagi-lagi aku tak menjawab dengan kata-kata, tapi cukup dengan lenguhan tak pasti, “Hemmmhh”. 

Hari ini pertikaian yang pecah dan memunculkan rentetan keluarnya peluru-peluru serta bau mesiu. “Ganyang muslim!”

Lamat-lamat kudengar teriakan membakar, entah keluar dari mulut siapa. “Cincang kaum teroris!” entah siapa lagi yang berseru. “Hancurkan!” “Sikat habis!” “Sate saja semua!!”

Suara-suara itu semakin keras menderu bagai badai. Kami ketakutan. Sangat takut malah. Hingga kudengar berita rahasia dari mulut ke mulut ada perahu yang bersedia mengangkut kami untuk mengungsi keluar dari negara bedebah ini. Diam-diam tentunya. 

Saat itu juga kuputuskan untuk pergi bersama Laila, putriku satu-satunya. Kubuang semua pertanyaan lugu: di mana kami harus tinggal?  Bagaimana nanti dengan kesehatan Laila? Bagaimana sekolahnya? Apakah rumah yang kami tinggal mengungsi tidak akan dijarah? Bagaimana pula nasib ternak dan padi kami? 

“Ah, apa yang terjadi, terjadilah,” kata batinku memantapkan niat. 

Malam ini kuputuskan untuk pergi. Pergi sejauh-jauhnya dari negeri para pembenci. Sesampai di tepi pantai, kulihat ratusan orang mengantre. Berjubelan, berdesakan. Sikut kanan, sikut kiri. Laki, perempuan, tua, muda, remaja, anak-anak, semuanya berebut naik ke perahu. Semuanya berwajah kusut dan nyaris tanpa harapan. Tangis bersahutan di sana-sini. Jumlah lautan manusia yang tidak seimbang dengan perahu yang tersedia. Aku tak peduli. Yang penting aku dan Lailaku harus pergi sejauh mungkin. Bukan esok atau lusa, tapi malam ini juga. Entah kemana.[]

Pengarang adalah Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, peneliti ICAIOS dan Center for Area Studies (CfAS) UIN Ar-Raniry.

Baca juga: